Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Masterclass: Membentuk Native Advertising yang Efektif untuk Pemasaran

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 25, 2020

Native Advertising kini menjadi salah satu strategi yang kerap digunakan para brand dan marketer untuk memasarkan produk atau jasa mereka dengan pendekatan yang dinilai cukup natural dan disukai oleh masyarakat.

Karena itu, makin banyak brand yang menggunakan strategi ini, tentunya dengan bekerja sama dengan para konten kreator agar bisa mencapai target pasar dengan tepat sasaran.

Namun begitu, banyak pula di antara sejumlah brand ini yang belum begitu familier untuk mendefinisikan apa itu native advertising. Hal ini pula yang menjadi alasan diadakannya acara Jakarta Content Marketing Meetup (JCMM) pada tanggal 25 Juli 2018 yang lalu, dengan tema, “Native Advertising and Influencer Marketing Masterclass”, sehingga semakin banyak pemasar yang berhasil menjalankan strategi ini demi kelancaran bisnis mereka.

Sebagai pembicara, Patrick Searle, Global CEO GetCraft menjelaskan mengenai hal-hal penting dalam menjalankan sponsored content ini.

Apa itu Native Advertising?

Memasarkan produk atau jasa menggunakan native advertising mungkin menjadi satu cara terbaik bagi para brand untuk bisa menarik minat masyarakat. Mengapa demikian? Karena promosi yang dilakukan oleh pemasar diletakkan secara natural baik itu secara bentuk dan fungsinya di mana sehalus mungkin menyatu dengan konten yang telah dibuat.

Hal lain yang membuat native advertising menjadi andalan bagi para marketer, adalah karena bentuk native advertising ini yang natural, maka kerap menimbulkan kecocokan antara konten yang disajikan tersebut dengan pengalaman yang pernah dialami oleh audiens mereka. Dari situlah yang membuat bentuk pemasaran ini terlihat dan terasa seperti konten yang natural.

Baca Juga: Apa itu Native Advertising

Lalu seperti apa bentuk Native Advertising ini?

Native advertising sendiri, sebenarnya bisa berupa berbagai bentuk, di antaranya, Programmatic Native Ads, Native Ad Unit dan Sponsored Content.

Programmatic Native Ads adalah ketika sebuah brand membuat advertorial dengan target market berdasarkan data yang sudah dikumpulkan oleh website. Bentuk native advertising ini dijual dengan menggunakan real-time bidding systems.

Native Ad Unit merupakan iklan berbayar dengan mengandalkan suatu platform seperti Google atau Facebook.

Sponsored Content merupakan bentuk advertising yang paling tenar saat ini. Sponsored content sendiri dibagi menjadi dua bentuk yakni, branded content dan influencer marketing.

Ketika menggunakan branded content, sebuah brand bekerja sama dengan publisher untuk membentuk sebuah pesan untuk disampaikan kepada masyarakat dengan menggunakan sebuah ide cerita yang spesifik.

Sementara, influencer marketing digunakan ketika brand bekerja sama dengan beberapa “thought leader” untuk membuat sebuah percakapan dengan para audiens mereka mengenai jasa atau produk yang mereka tawarkan yang menghasilkan dampak yang besar.

Apa itu Native Advertising

Klik di sini untuk bekerjasama dengan penulis terbaik di Asia Tenggara

Seperti apa kampanye sponsored content yang bisa dibuat?

Sebuah kampanye sponsored content yang dijalankan oleh sebuah brand tentu pada akhirnya ingin lebih dikenal banyak orang dan bisa meningkatkan keuntungan mereka.

Berdasarkan tujuannya, berikut bentuk sponsored content yang bisa dilakukan oleh seorang pemasar agar dapat berjalan efektif,

Brand Awareness: 4 kampanye yang bisa dijalankan untuk mencapai tujuan ini adalah, Channel Takeover, Fresh & New, Creative Challenges, dan Emotional Story Telling.

Brand Building: Untuk mencapai tujuan ini, jenis kampanye yang cocok untuk dijalankan antara lain, Product Placement, How To’s dan Disruptive Idea.

Product Consideration: Ketika objektif dari pemasar adalah product consideration, maka bentuk kampanye yang tepat adalah, Guides&Review, Custom Research dan Promos & Giveaways.

Bagaimana cara menentukan publisher atau influencer untuk diajak kerja sama

Ada kalanya, ketika ingin bekerja sama dengan sebuah publisher atau influencer, mereka kesulitan untuk menentukan publisher atau influencer mana yang cocok. Dan untuk bisa mengidentifikasikan tersebut, marketers perlu melihat,

1. Berapa banyak views dan klik yang dibutuhkan.

2. Memilih media atau influencer yang benar-benar sesuai dengan karakteristik brand terkait.

Baca Juga: Content Marketing Masterclass: Tips Mencapai Tujuan Bisnis Anda

Mengukur kampanye sponsored content

Setelah menjalankan sebuah kampanye tentu seorang pemasar ingin mengetahui seperti apa performa dari campaign yang mereka jalankan. Dan agar mengetahui apakah kampanye yang dijalankan itu efektif atau tidak, brand dapat melihat

Reach

Dengan mengukur reach ini, pemasar dapat tahu ada berapa banyak audiens yang melihat kampanye tersebut. Akhirnya pemasar menjadi tahu apakah konten dilihat oleh target market yang tepat. Yang penting diukur yakni, Post views/ video views/ Cost per View.

Engagement

Apa yang bisa didapat dari mengukur engagement ini adalah mempelajari kualitas konten yang telah dipublikasikan. Yang diukur engagement ini adalah Like/ Comments/ Shares.

Conversions

Ketika mengukur conversions akan membuat pemasar mengetahui apa yang dilakukan oleh audiens setelah mereka melihat dari konten tersebut. Yang diukur untuk conversions ini adalah Cost per click / cost per action.

Native advertising merupakan salah satu strategi marketing yang biasa digunakan oleh sebuah brand, Dan masih banyak strategi lain yang dapat diterapkan untuk mencapai tujuan pemasaran. Karena itu, JCMM hadir agar para pemasar dapat menerapkan berbagai strategi marketing yang efektif bagi bisnis mereka.

Apa itu Native Advertising

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles