Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

​Cameo Project: "Kita itu Kreator Terkaya dari Sisi YouTuber"

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 26, 2020

Sekarang ini, menjadi kreator secara tidak langsung juga membentuk brand sendiri. Karena ini berarti kita harus membuat perencanaan, konten apa yang ingin diproduksi, menentukan persona yang ingin ditampilkan di hadapan audiens, sampai mencari tahu bagaimana cara pemasaran yang tepat agar dikenal luas, sehingga meningkatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan klien.

Dan salah satu kreator di Indonesia yang namanya bukan hanya dikenal dari Sabang sampai Merauke bahkan sampai diundang ke ranah internasional karena persona dan strategi marketing yang kuat sampai dipercaya oleh berbagai brand besar di Indonesia adalah Cameo Project.

Untuk mengetahui strategi marketing yang mereka kembangkan, serta mendapakan insights mengenai bagaimana caranya agar konten brand bisa lebih menonjol dibanding para pesaingnya, Academy sempat mengobrol dengan Oktora Irahadi, Marketing Director Cameo Project dan Martin Anugrah, owner dari Cameo Project ini.

Baca Juga: Memahami Apa itu Content Marketing

Seperti apa konsep brand dan konten dari Cameo Project?

Oktora (O): Cameo itu sering mengalami kebingungan dan kita sesuaikan dengan industri yang selalu dipengaruhi audience behaviour. Ada satu waktu audiens suka dengan konten (berkonsep) “tipe-tipe orang”. Tapi dengan masuknya banyak penonton baru, sekarang konten-konten gibah mulai naik.

Kalau konten Cameo, kita sadar sejak 2015, kalau mau distinct, mau berbeda dengan yang lain, harus maju dengan satu suara. Konten kita kebetulan peduli sama Indonesia, jadi kita lanjutin. Kalau bikin konten “tipe-tipe”, contohnya tipe-tipe orang Ambon, tipe-tipe orang Batak, tipe-tipe emak-emak Batak, kalau mau lebih spesifik lagi.

Jadi kita mau dikenal sebagai anak muda yang nasionalis, padahal kita udah enggak terlalu muda juga by the way. Tapi menariknya, Cameo project itu penontonnya millennials yang punya range umur 17-35 tahun. Gen Z-nya juga ada 5-6%. Maka, distinct Cameo adalah 'kita yang paling Indonesia'.

​Cameo Project: "Kita itu Kreator Terkaya dari Sisi YouTuber"
Sumber Gambar: Instagram @cameoproject

Bagaimana benang merahnya agar bisa merangkul Indonesia yang luas dan beragam ini?

Ini menarik, karena kita melihat yang terjadi di Indonesia saat ini bukan kurang informasi tapi terlalu banyak informasi. Kalau menurut data, ada 43 ribu lebih portal (konten), dan baru 200 yang diverifikasi. Indonesia juga juara dua dari bawah masalah minat baca. Dari 61 negara, Indonesia nomor 60 mengenai minat baca. Lalu secara umum, 59% orang itu tidak bisa membedakan mana hoax dan yang real, 62% cukup percaya bahwa yang hoax itu real.

Jadi yang kita kerjakan, gimana caranya merangkul seluruh Indonesia? Kita buat event, activation yang walaupun berbeda dari 34 provinsi tetapi mempunyai satu kesamaan. Mulai dari hal yang simpel saja, mungkin makanannya, atau adat istiadatnya.

Seperti naik motor tarik 3, mutar balik sembarangan itu “Indonesia banget”, yang kayak gitu-gitu. Itu kan sederhana, tapi harapannya ada subliminal message yang masuk, bahwa kamu dan saya enggak begitu beda jauh, kita sama, orang Indonesia. Makanya kita terus buat konten-konten yang seperti itu.

Tapi sekali-sekali kita serius, misalnya, buat konten Indonesia Bertoleransi, tapi kita arahin yang fun.

Cara agar brand bisa masuk ke dalam konten yang dapat menarik minat masyarakat?

Orang Indonesia itu enggak bodoh, orang digital itu enggak bodoh. Intinya, kalau mau masukin brand ke dalam tayangan, enggak usah khawatir mengenai softselling atau hardselling, yang penting adalah unik. Unik itu yang akan distinct.

Softselling itu sudah bukan prioritas, sudah enggak penting. Karena orang digital itu sudah pintar, mereka terbiasa melihat brand on daily basis. Tapi bagaimana sewaktu masukin brand dengan unik, itu yang akan jadi obrolan orang, word of mouth.

Mungkin untuk brand, sarannya bikin (konten) unik. Enggak usah takut sama hardsell atau softsell. Dikombinasikan sama channel. Misalnya, channel Cameo ada do and dont’s-nya. Jangan terlalu jauh dari pakem itu, ditambah cara yang unik, mestinya sukses.

Baca Juga: Tips Membangun dan Memasarkan Konten Ala Bahari CK, Creative Director GO-JEK

Bagaimana cara Cameo dan brand melakukan proses kreatif konten yang win-win solution?

Cameo itu mungkin kreator yang paling santai. Artinya, kalaupun klien punya masukan, akan kita terima. Karena ide kreatif itu enggak selalu dari kreatornya, maksudnya, kreator enggak selalu paling benar, karena benar itu relatif. Dan begitu ada masukan biasanya kita olah.

​Cameo Project: "Kita itu Kreator Terkaya dari Sisi YouTuber"
Sumber Gambar: Instagram @cameoproject

Strategi marketing apa yang dirasa paling efektif dalam memasarkan Cameo Project ini?

Buat saya yang paling penting, nomor satu adalah persona, make sure dekat sama persona itu. Yang kedua, harus tahu kondisi pasar. Industrinya kayak apa, target behavior-nya seperti apa. Kalau ngomong YouTube, tahun 2016 sama 2018 aja udah beda banget secara audiensnya.

Perubahan itu memang membuat audiens kita enggak hilang, tapi bisa bayangin audiens yang jutaan itu masuk. Penonton kita 50.000, yang lain bisa 200.000. Kenapa? Karena ada audiens baru yang ditambahkan.

Jadi kalau mau mengejar audiens, mau enggak mau ada yang di-pivot, diperbaiki, dipecut diganti, atau di-touchup dikit

Yang paling penting itu, personanya. Terus konsistensinya dengan persona itu. Yang kedua tetap ikuti industrinya.

Martin (M): Karena persona menentukan positioning (brand), ujung-ujungnya di situ.

Sebenarnya kita termasuk YouTuber terkaya lho.

Kaya itu kan bukan cuma uang. Relatif. Kenapa kita YouTuber terkaya? Karena kita reach-nya secara influence sudah global. Kemarin (Cameo) diundang ke Kazakhstan untuk membagikan apa yang kita lakukan di Indonesia supaya mereka bisa belajar dari situ.

Dan surprisingly mereka cukup amaze sama apa yang kita lakuin. Jadi, 'kaya' itu maksudnya bukan sesuatu yang kita punya, tetapi yang bisa kita bagikan.

Dengan berbagi, berarti meng-invest ke orang banyak bukan cuma audiens. Jadi kita bukan cuma mau mempengaruhi pasar tetapi juga mempengaruhi pelaku pasar. Influencer itu kita pengaruhi sampai akhirnya mereka bisa meng-influence lebih banyak (orang) lagi. Enggak hanya di dalam negeri tapi juga ke luar negeri.

Dan (yang ter-influence) bukan orang sembarangan, salah satunya orang United Nations, ada orang-orang dari pemerintahan Kazakhstan, Uzbekistan, Rusia, Turkmenistan, dan orang-orang sana (bilang), mereka tertarik dengan apa yang kita lakukan terhadap anak-anak muda. Istilahnya, konten kita juga mengembangkan anak-anak muda di sana supaya lebih kreatif.

Apa saja kelebihan dan kekurangan konten di YouTube saat ini khususnya di Indonesia?


O: Masalahnya bukan kekurangan konten, tapi konten yang bagus, yang permata itu enggak kelihatan. Bayangin sehari ada 100 ribu konten, satu yang bagus tertutup sama yang 100 ribu.

Kalau dari sisi kreator, karena sekarang ikut-ikutan, (membuat konten) jadi enggak perlu berkonsep, cuma nge-vlog aja bisa laku. Akhirnya kreator juga berpikir “ngapain effort, kayak dia aja”. Tapi yang kreator suka lupa, ada branding persona di balik itu, seberapa effort-nya.

M: (Kekurangannya) apresiasi yang di pengaruhi oleh sistem yang dibuat oleh platform dan industrinya. Kreator itu biasanya terbentrok dua hal, fasilitas dan apresiasi.

Kalau sekarang, bicara soal penghasilan, sistemnya itu membuat orang lebih terlihat dihargai walaupun tidak bikin konten yang sekreatif mungkin.

Plusnya adalah, siapa pun bisa terjun sebagai konten kreator. Minusnya, konten kreator yang punya idealisme tinggi, yang bikin konten bagus, tidak dihargai. Itu terpengaruh dari sistem yang dibuat oleh platform itu sendiri dan juga pelaku industri tentunya.

Brand juga bukan melihat karya lagi, bukan konten lagi, tapi reach. Berapa reach-nya. Jadi misalkan ada pilihan, membuat suatu karya, suatu kreasi, yang harganya 100, tapi pilihan kedua adalah ada yang menawarkan harganya 50 tapi reach-nya bisa dua kali lipat dari yang 100, brand akan milih yang 50.

Sebenarnya image brand itu mana sih? Reach atau konten? Ini edukasi untuk brand sebetulnya, mau dilihat sebagai brand yang banyak ditonton atau brand yang kontennya bagus.

O: Which sebenarnya, brand mau jualan dulu atau dapat nama dulu, antara dua.

Tapi kalau dari sisi kreator melihatnya gini, brand itu mau diasosiasikan sama siapa? Dan konten semacam apa? Kalau cuma memikirkan reach, kalau ngomong jujur, belum tentu orang yang nonton 1 juta itu akan beli produk brand terkait. Tapi, bisa jadi gara-gara orang nonton satu konten yang view-nya kecil, tapi keren banget, akhirnya berpikir, brand ini keren nih, berani ngasih ide seperti ini.

Problem yang terjadi di dunia brand dan industri adalah, brand terlalu memikirkan bagaimana caranya fit in, tapi lupa caranya standing out. Jadi cuma mikirin gimana caranya bisa blend in sama pasar, tetapi lupa untuk punya suara sendiri yang kuat.

→Berminat untuk bekerja sama dengan videografer terbaik di Indonesia? Klik di sini!

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles