Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

7 Tips Native Advertising dari Marketers Andal

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 26, 2020

Pola perilaku konsumen potensial kini sudah tidak lagi sama. Mereka sudah bosan ketika dijejali oleh berbagai promosi dan kerap menganggapnya sebagai gangguan. Dan hal ini membuat para marketer harus memutar otak mereka dengan menciptakan berbagai kreativitas baru agar bisa menjangkau para target audiens yang telah mereka tentukan tersebut.

Di dalam perjalanannya, para marketer telah menemukan berbagai cara untuk dapat menarik minat masyarakat agar setidaknya mereka mengetahui produk yang sedang mereka promosikan tersebut. Misalnya saja dengan bantuan para influencer, mereka membuat sebuah evolusi dari bentuk traditional marketing paling ampuh yakni word of mouth.

Tidak sampai di situ, mereka juga telah berhasil menemukan satu cara untuk membuat sebuah konten yang isinya bertujuan untuk promosi tetapi dapat disamarkan menjadi sebuah konten yang tidak terasa berjualan. Secara natural mereka dapat mencuri perhatian para konsumen potensial dengan sebuah konten yang dapat mempengaruhi pembelian mereka yaitu dengan membuat Native Advertising.

Baca Juga: Apa itu Native Advertising?

Walau begitu ternyata banyak juga marketer yang salah mengartikan strategi marketing satu ini. Berikut pendapat dan tips native advertising dari beberapa marketers andal.

Apa itu native advertising?

“Native advertising adalah bentuk advertising yang berkamuflase dan bercampur dengan tipe konten seperti pada umumnya di dalam sebuah platform. Ada cara yang benar dan salah dalam melakukan native advertising ini. Native advertising yang buruk adalah yang tidak cocok ketika diterapkan pada sebuah konten yang telah dibuat, tidak berharga, tidak masuk akal dan hanya sebuah promosi berbayar yang bisa menghilangkan kepercayaan pembacanya. Sementara itu, native advertising yang baik dapat memberikan nilai lebih kepada para pembacanya dan terletak secara natural dengan platform terkait untuk menarik minat khalayak.”

- John Hall, CEO Influence & Co

Inti dari native advertising

“Inti dari membuat sebuah native advertising yang baik adalah dengan mengetahui secara pasti apa yang menjadi minat dari grup yang sudah ditargetkan. Dengan mengetahui hal ini, akan memudahkan pemasar untuk mengetahui konten, channel dan format yang tepat bagi kesuksesan campaign yang dijalankan.”

- Karsten Krämer, Managing Director C3

Formula membuat native advertising

"Storytelling itu adalah tentang membuat sebuah pemahaman mengenai suatu manfaat. Jika Anda dapat meningkatkan kualitas hidup customer dengan cara membuat keputusan kompleks mereka menjadi lebih simpel, atau membuat isu teknis menjadi lebih mudah terpecahkan, hingga dapat membuat hidup seorang user menjadi lebih cepat dan mudah, maka itu adalah winning formula (dalam native advertising).”

- Rickard Lawson, Country Manager Strossle Norway.

Pentingnya kualitas konten dalam native advertising

"Sebuah konten itu bisa dibuat panjang atau pendek, bisa mahal, bisa juga murah. Konten juga bisa dibuat berbayar ataupun tidak, bisa ditujukan untuk masyarakat luas atau hanya pada kalangan yang spesifik, bisa juga custom atau time-tested. Sebuah konten itu bisa dibuat sedemikian rupa. Tetapi satu hal yang pasti, konten itu harus dibuat dengan bagus. Fokus pada kualitasnya dan fokus pada audiens. Dan kita perlu membuat konten yang membuat kita mau menghabiskan waktu dengannya. Jika tidak begitu, apa poinnya?"

- Armando Turco, General Manager of Vox Creative, Vox Media’s branded content studio, USA

Mengapa native adverising begitu populer?

"Native advertising merupakan salah satu tren digital advertising terbesar dalam beberapa tahun terakhir ini. Alasan kepopuleran native advertising tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, karena banyaknya penolakan dan 'banner blindness' terhadap banner display advertising. Kedua, pertumbuhan media sosial dan content marketing, tempat di mana konsumen mengonsumsi berbagai konten milik brand. Dan yang ketiga, karena meledaknya perkembangan mobile advertising. Dan di dalam perkembangan native advertising, ketiga faktor tersebut saling berhubungan dan saling berkombinasi.

Native advertising sendiri merupakan masa depan bagi seluruh digital advertising di mana konten dan kreativitas merupakan inti dari pesan yang ingin disampaikan brand terkait, dan bukan hanya menampilkan sebuah pesan mengganggu seperti 'lihat iklan ini'. Semua kampanye digital di masa depan perlu untuk melibatkan konten pada suatu tahap agar bisa menarik minat audiens hingga mendatangkan kesuksesan."

- Dave Lovell, Content and Publishing Director Adyoulike

Bagaimana cara membuat native advertising yang sukses?

"Sebenarnya ini cukup simpel. Bagikanlah konten yang menarik, buatlah secara menggairahkan dan menghibur. Pastikan konten yang kita publikasikan tersebut mempunyai sesuatu yang dapat membuat orang lain berpikir di mana brand atau produk kita itu berpijak, walau sebenarnya kesuksesan native advertising itu lebih rumit daripada itu, karena jika tidak, semua orang akan dapat membuatnya secara efektif. Salah satu masukan, kita butuh untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan dan minat dari para audiens, lalu buatlah konten dari hal tersebut. Setelah itu, percayakan pada para profesional. Karena ada nilai yang lebih besar di dalam diri seorang yang telah ahli seperti editor dan storyteller yang baik."

- Stuart Feil, Custom Publishing Director Adweek

Mengukur efeknya

"Publisher telah melakukan advertorial sejak abad 20. Namun pada dasarnya itu hanyalah advertising dalam bentuk artikel. Dan native advertising, khususnya content marketing seharusnya benar-benar berbeda dari itu. Native advertising itu adalah tentang meningkatkan awareness dan menjadi alat bagi para pembaca untuk memecahkan masalah mereka, dan bukan tentang mempromosikan suatu produk. Jika publisher tidak menaruh hal ini di dalam pikiran mereka, maka pada akhirnya hanya akan meruntuhkan nilai dan juga harga bagi native advertising ini.

Setelah itu, tentunya kita perlu untuk mengukur sebuah native advertising. Jika tidak begitu, maka kita tidak akan pernah bisa untuk meyakinkan para pengiklan."

- Roland Viin, then Advertising Director Ajakirkade Kirastus As, Estonia

Baca Juga: Stop Spamming: Ini Dia cara Membuat Native Advertising yang Seru

Berikut di atas merupakan beberapa tuturan para pakar mengenai native advertising ini. Dan jika Anda ingin membuat sebuah native advertising untuk dapat menarik minat para audiens, silakan membuat brief dengan klik tombol di bawah ini.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles