Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Bagaimana Cara Menjalankan Kegiatan Content Marketing untuk Bisnis E-Commerce?

By
GetCraft
 •
July 10, 2020

Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel berikut: How E-Commerce Business Can Use Content Marketing to Grow in 2020

Beberapa marketers pada bisnis e-commerce cenderung mendorong strategi marketing mereka untuk meningkatkan konversi. Hal ini kerap kali membuat mereka mengesampingkan kegiatan content marketing yang dianggap lebih banyak menyasar pada objektif-objektif top funnel seperti awareness.

Padahal, menjalankan kegiatan content marketing bagi bisnis e-commerce bisa mendatangkan manfaat lain selain membangun awareness masyarakat. Dengan konten yang baik dan bernilai, audiens menjadi tergerak untuk mau membagikan koten terkait pada orang-orang terdekat mereka atau melalui media sosial, dan hal ini tentunya turutpula membantu untuk mendorong tingkat konversi.

Berdasarkan data dari Demand Metric, content marketing memiliki biaya 62% lebih rendah dibanding traditional marketing, dan pada waktu bersamaan dapat mengumpulkan leads 3 kali lebih banyak.

Baca Juga: Memahami Apa itu Content Marketing

Lalu apa yang perlu dilakukan oleh bisnis e-commerce dalam menjalankan content marketing mereka?

Konten yang mobile-friendly

Pada tahun 2020, diperkirakan 45% dari seluruh keputusan jual beli terjadi melalui perangkat mobile. Karena hal tersebut, para pelaku industri e-commerce perlu membuat konten yang ramah terhadap mobile.

Untuk memulainya, pastikan desain dari situs tersebut responsif terhadap perangkat mobile. Setelah itu, kita dapat membuat konten yang sifatnya cepat dan mudah untuk dikonsumsi. Semisal, artikel yang berisi 2-3 paragraf, menggunakan bullet point, membuat listicles, dan menambahkan aspek visual yang menarik seperti gambar, foto atau video.

Menggunakan video

Platform sosial media saat ini mulai dibanjiri dengan konten-konten video. Ditambah, popularitas Instagram diprediksi akan melampaui Facebook pada beberapa tahun ke depan, khususnya untuk target pasar anak-anak muda berusia dibawah 35 tahun. Seperti yang kita lihat pada beberapa tahun belakangan ini, Instagram Story kini lebih banyak diminati masyarakat dibanding post-post pada platform Facebook.

Lebih jauh, kalau kita melihat sepintas pada konten-konten yang tersaji pada platform YouTube, kita akan menyadari bahwa YouTube saat ini dipadati oleh konten yang berisi product review, unboxing, dan reaction. Berdasarkan studi dari Social Media Today, 60% pembeli akan lebih senang menonton video produk dibanding membaca deskripsi produk.

Walau demikian, hal ini tidak berarti, jika kita membuat konten berbentuk video maka otomatis akan mendatangkan sales. Banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan ketika membuat konten video. Seperti, perlu memberikan informasi, inspirasi dan juga harus terasa otentik. Hal inilah yang nantinya akan meyakinkan calon konsumen untuk mau mengonsumsi produk atau jasa kita dan membantu mendorong tingkat konversi.

Bereksperimen dengan konten interaktif

Konten interaktif lebih mudah diingat karena dapat memberikan pengalaman unik kepada para pelanggan. Mereka akan merasa menjadi bagian dari cerita yang disampaikan, dan hal ini akan membuat upaya marketing yang dijalankan lebih bersifat personal.

Beberapa brand mengembangkan situs atau aplikasi yang dapat mengajak penggunanya untuk membayangkan menggunakan produk yang ditawarkan. Contoh, Sephora yang membuat para pengunjung situsnya dapat secara virtual mencoba make-up dari brand terkait.

Konten interaktif tidaklah harus dibuat kompleks dan mahal. Kita bisa membuatnya secara sederhana seperti menyajikan personality quiz yang menarik dan cocok untuk kepribadian audiens. Atau jika kita terjun dalam brand finansial, kita bisa juga membuat konten interaktif seperti kalkulator.

Tipe-tipe konten seperti ini akan membantu mendorong tingkat konversi, jika kita bisa memberikan call-to-action yang tepat dan menarik. Kadangkala, konten interaktif dapat juga memotong tahap pembelian masyarakat dari awareness langsung ke tahap pembelian (purchase).

Pentingnya melakukan kolaborasi

Audiens akan lebih mengapresiasi ketika kegiatan marketing dijalankan secara kolaboratif. Hal ini karena mereka merasa dihargai, karena brand mendengar pertimbangan dan feedback yang mereka berikan.

Untuk mendorong kolaborasi dengan audiens, kita bisa mengadakan user-generated content (UGC) dengan mengajak audiens untuk mau membagikan cerita atau pengalaman mereka dalam menggunakan produk atau jasa yang kita tawarkan. Setelah itu, kita bisa fitur konten mereka tersebut pada galeri online yang kita miliki.

Selain itu, kita juga bisa berkolaborasi dengan para kreator konten dan influencer untuk membuat konten. Ajak mereka untuk membuat artikel pada blog yang kita kelola, membuat product review, video unboxing dan lain-lain. Dengan begitu konten menjadi lebih otentik dan disukai oleh masyarakat.

Baca Juga: Tips Kurasi Konten dalam Kegiatan Content Marketing

Kunci dari menjalankan content marketing ini yakni, audiens yang aktif akan mendatangkan tingkat konversi yang lebih tinggi.

Tidak ada trik khusus dalam menjalankan strategi content marketing bagi industri e-commerce. Namun kita perlu memastikan bahwa konten yang kita sajikan tersebut bersifat personal dan dapat memberikan pengalaman kepada para audiens.

Kita juga perlu memiliki upaya lebih untuk lebih mengenal audiens. Beberapa hal yang dapat kita lakukan seperti, mengajak mereka bermain kuis, mendengarkan cerita dan opini mereka. Selain itu, kita juga perlu memberikan pengalaman tak terlupkan yang menghibur, interaktif dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles