Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

4 Tren Mobile Native Advertising

By
GetCraft
 •
May 25, 2020

Ketika melihat ke sekitar, kapan pun, di mana pun, kita pasti melihat banyak orang yang sedang larut dengan smartphone mereka. Entah itu sedang chatting, mendengarkan lagu, bermain media sosial atau menonton video. Dan dengan alat sekecil itu, kini ponsel sudah menjadi satu media yang powerful untuk memenuhi segala kebutuhan kita.

Hal ini pula yang menjadi alasan bagi para marketer untuk mendorong strategi pemasaran mereka agar terfokus pada berbagai channel di media sosial. Misalnya saja dengan membuat sebuah native advertising yang dipublikasikan lewat fitur yang spesifik agar banyak target audiens pengguna mobile bisa mendapatkan awareness mengenai produk yang dipromosikan tersebut.

Dan kini, menjalankan mobile native advertising menjadi satu tren yang sedang berkembang bagi para brand untuk memasarkan produk mereka. Lalu seperti apa tren mobile native advertising ini?

Baca Juga: Apa itu Native Advertising?

Mobile Native Advertising terus berkembang

Pada 2016, Stone Temple mencatat, jumlah traffic yang didapatkan oleh sebuah website, sekitar 57% berasal dari para pengguna mobile. Sementara itu, pada 2017, jumlah traffic yang berasal dari mobile bertambah menjadi 63%. Dan hal ini tidak menutup kemungkinan pada tahun-tahun setelahnya, traffic untuk mobile web ini akan terus berkembang.

Sejalan dengan hal tersebut, media sosial kini juga sudah mulai didominasi oleh para pengguna mobile. Sebagai contohnya dari 1,74 miliar pengguna aktif Facebook, sebanyak 56,5% dari jumlah user tersebut, memilih untuk log in hanya dari perangkat mobile mereka saja. Dan ini menjadi alasan mengapa 88% keuntungan Facebook datang dari mobile advertising.

Tidak sampai di situ, media sosial seperti Instagram yang fokusnya lebih pada mobile juga semakin berkembang pesat, dan pada akhirnya banyak marketers yang mulai memindahkan dana mereka untuk format iklan pada bentuk mobile ini.

Media sosial akan mendominasi native advertising

Perkembangan native advertising untuk perangkat mobile saat ini terus meningkat. Di tahun 2016, sebanyak 39% dana untuk native advertising dialokasikan oleh para marketer untuk kebutuhan mereka di media sosial. Dan ini lebih tinggi 14% jika dibandingkan dengan tahun 2015.

Melihat data di atas, media sosial kini semakin menjadi pilihan utama bagi para pemasar untuk memuluskan strategi pemasaran mereka. Faktor utama mengapa media sosial kini menjadi salah satu tempat untuk mempublikasikan native advertising adalah karena jumlah audiens yang besar, dan membuat para marketer bisa menciptakan berbagai format konten yang lebih bervariasi.

Luasnya jaringan yang ditawarkan oleh media sosial terkait terhadap masyarakat juga menyebabkan media sosial menjadi salah satu channel distribusi konten yang paling bisa menarik minat dari masyarakat luas.

Iklan dengan format video akan semakin diminati

Sekarang ini, native advertising dengan format artikel mungkin masih menjadi bentuk yang paling digemari oleh para marketer, tetapi perkembangan yang cepat dari konten dengan bentuk video membuat prediksi baru bahwa nantinya semakin banyak brand yang akan mengadopsi format video ini sebagai media komunikasi native advertising mereka.

Mengapa begitu? Karena sampai hari ini, jumlah penonton video terus bertambah setiap harinya. Dan menariknya, masyarakat kini lebih senang untuk mengakses video tadi lewat smartphone mereka. Beragamnya tipe konten video untuk mobile juga menjadi alasan mengapa para brand semakin senang untuk membuat konten video sebagai media pemasaran native advertising mereka itu.

Membuat strategi untuk channel yang spesifik itu penting bagi marketers

Agar dapat membuat sebuah native advertising yang sukses, maka penting bagi kita untuk mengidentifikasi terlebih dahulu seperti apa fungsi dari konten yang akan dibuat tersebut. Karena biar bagaimana pun, setiap platform media sosial itu memiliki spesifikasi dan ciri khas-nya masing-masing. Selain itu, para audiens dari setiap platform tadi juga memiliki kebutuhannya masing-masing mengapa mereka menggunakan suatu media sosial tertentu.

Dan dengan mendistribusikan konten melalui platform yang tepat, hal ini akan membuat native advertising yang dibuat tadi bisa mendapatkan engagement yang lebih baik terhadap target audiens yang diharapkan.

Lantas seperti apa cara membuat konten yang tepat untuk setiap platform yang berbeda? Salah satu cara semisal, para pengguna Facebook itu terbiasa menonton video tanpa suara, maka itu sebuah subtitles di dalam video tadi membuat para audiens akan lebih tertarik pada konten tersebut. Berbeda dengan para penonton YouTube yang lebih senang untuk menonton video bersuara. Karena itu, subtitle pada konten untuk YouTube mungkin tidak akan memiliki pengaruh yang signifikan jika dibadingkan dengan konten di Facebook.

Baca Juga: 7 Tips Native Advertising dari Para Marketers Andal

Perkembangan media sosial mungkin salah satu alasan mengapa native advertising untuk mobile kini terus diminati. Dengan konten yang tepat dan platform yang sesuai tentunya ini dapat menjadi kunci kesuksesan untuk bisa mendapatkan awareness dan minat yang besar dari masyarakat luas.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles