Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Mempelajari Cara Membangun Brand ala Jay Z

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 19, 2020

Banyak orang yang mengidolakan sosok Jay Z. Sebagai musisi, angka penjualan albumnya selalu fantastis, bahkan tur yang dijalaninya pun kerap habis tiketnya. Tidak hanya dalam pembuatan musik, kejeniusan Jay Z juga terbukti dalam dunia bisnis yang digelutinya. Beberapa bisnis yang dijalankannya antara lain; beberapa tim olahraga, clothing line, label musik dan lain sebagainya. Menurut Forbes keuntungan dari bisnis yang dijalankannya mencapai US$ 550 juta.

Membangun sebuah bisnis sendiri tidak jauh berbeda dengan mengembangkan karier di industri musik. Misalnya, seperti artis yang baru launching, tidak dikenal oleh siapa pun dan mencari-cari audiens yang tepat. Ketika sudah menemukan audiensnya, hal yang dilakukan selanjutnya adalah menjangkau audiens lebih luas dan menjaga loyalitas fans tersebut.

Baca Juga: Memahami Apa itu Content Marketing

Dan berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita pelajari dalam membangun sebuah brand dari musisi seperti Jay Z.

Berpikir seperti musisi

Seperti musisi yang akan mempublikasikan single atau album baru, setiap konten yang dibuat oleh marketers pun memiliki pesan penting yang ingin disampaikan kepada para audiensnya. Dan setiap elemen kesuksesan dalam lagu yang dibuat oleh musisi turut berkontribusi pada komunikasi pesan yang disampaikan musisi.

Selayaknya musisi, kita juga perlu untuk menyampaikan pesan melalui cara terbaik untuk mengutarakannya kepada audiens. Mulai dari tipe konten, kata-kata yang digunakan, elemen visual, hingga channel yang tepat untuk mempromosikan konten perlu kita pikirkan secara matang guna membantu pesan bisa sampai dan diterima dengan baik oleh audiens. Pastikan juga kita mendungkapkan pesan tersebut dengan cara kita sendiri (unique voice).

Konten tentu tidak selesai sampai proses produksi saja, tetapi kita juga perlu mempromosikannya. Selayaknya artis yang mendatangi wawancara radio atau televisi untuk mempromosikan materi yang dimilikinya. Tetapi mempromosikan lagu pun perlu dilakukan secara bertahap, begitupula dengan konten.

Tidak hanya dengan sekali promosi pada acara besar lalu selesai begitu saja. Karena satu kali promosi besar sebanyak terkadang membuat audiens sulit untuk mengingatnya atau tidak sampai pada keseluruhan target audiens. Kita juga perlu menjadi brand advocate kapan pun di mana pun.

Memanfaatkan waktu

Jay Z memulai karier sebagai musisi dengan menjadi artis tamu dalam lagu-lagu rapper lain. Namun, ketika memulai albumnya sendiri ternyata ia sulit mendapatkan label yang ingin memproduksi album tersebut. Akhirnya, Jay Z menjual CD miliknya dengan menggunakan mobilnya sendiri.

Kerja keras tersebut yang pada akhirnya membuahkan hasil hingga saat ini. Dan di masa sekarang ini, di tengah kesuksesannya, ia masih dikenal sebagai salah satu penyanyi yang penuh dengan kerja keras di industri entertainment.

Dengan mencontoh Jay Z, dalam membangun brand pun dibutuhkan kerja keras. Karena brand tidak akan langsung menjadi besar hanya dalam waktu semalam saja. Tetapi membutuhkan upaya dalam jangka waktu yang tidak sebentar, dan dengan melakukan pilihan-pilihan strategi yang tepat seiring berjalannya waktu.

Selain itu, kita juga perlu fokus pada eksekusi dan audiens, melakukan riset, bereksperimen dan lain sebagainya. Sehingga nama brand semakin dikenal dan semakin banyak orang yang mau menggunakan produk dan jasa tersebut.

Jangan "mempromosikan lagu yang buruk"

Seorang musisi tentunya akan mempromosikan lagu-lagu yang dianggap terbaik dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Dalam proses pembuatan lagu pun mereka perlu meluangkan waktu dan upaya, seperti memikirkan ide lirik, melodi, dan lain-lain. Seorang marketers pun perlu membuat konten mereka secara terencana, diproduksi dengan baik dan dipoles hingga jadi karya yang terbaik sebelum dipublikasikan dan dapat dilihat oleh banyak orang.

Salah satu cara agar kita dapat mengetahui apakah sebuah konten memiliki kualitas yang baik atau tidak, adalah dengan memberikannya kepada 20-30 kolega yang kita percaya, tanyakan feedback kepada mereka. Jika mayoritas menyukainya, maka kemungkinan besar sasaran audiens kita tertarik dengan konten terkait. Dan jika mereka memberikan feedback atau pertanyaan, maka kita dapat menyempurnakan konten yang kita sajikan sebelumnya.

Selain itu, kita juga dapat melihat konten-konten mana saja yang menjadi hits atau memiliki performa yang paling baik. Dari konten tersebut, kita dapat melakukan repurpose atau membuat konten baru dengan strategi yang sama. Kita juga dapat mencari tahu kesalahan dari konten mana yang tidak memiliki performa baik dan tidak mengulanginya.

Jika memang konten yang kita sajikan tidak dapat mencapai objektif yang ditentukan, maka brand perlu untuk mengubah strategi dengan cara melakukan repurposing atau menaikkan skala pencapaian target.

Dengan mempromosikan konten yang paling menarik, tentunya hal ini akan memancing para sasaran audiens untuk mau mempelajari lebih jauh tentang brand kita dan memperbesar peluang calon pelanggan mau untuk menggunakan produk atau jasa yang kita tawarkan.

Pentingnya berkolaborasi

Dalam memulai karier, Jay Z bekerja sama dengan mentornya, Jaz-O, yang memberi ia kesempatan untuk menjadi artis tamu dalam lagunya. Lagu itu pula yang kemdudian turut melambungkan nama Jay Z dalam dunia entertainment.

Sama seperti Jay Z, dalam membangun brand kita pun membutuhkan mentor agar dapat membantu mengembangkan bisnis yang dijalankan. Misalnya kita bisa meminta kolega kita yang telah terlebih dahulu terjun dalam dunia bisnis, dan meminta berbagai saran berdasarkan pengalaman yang pernah dilaluinya. Dengan begitu, bisnis pun bisa lebih berkembang.

Selain itu, membangun relasi dengan rekan yang bekerja pada industri yang sama dan berbeda juga dapat membantu kita dalam mengembangkan brand. Seperti Jay Z yang bukan hanya kerap berkolaborasi dengan artis hip hop yang satu aliran dengannya, tetapi dirinya juga bekerja sama dengan musisi lintas genre seperti Alicia Keys atau Fall Out Boys. Hasilnya Jay Z berhasil membuat karya baru dengan musik berbeda dan menarik yang disukai oleh para penikmat musik di luar hiphop, sehingga dapat melipatgandakan pendengarnya.

Karena itu, kita juga dapat bekerja sama dengan rekan-rekan pada industri yang berbeda sehingga dapat meningkatkan peluang untuk menyasar target audiens yang lebih luas.

Baca Juga: Mempelajari Strategi Marketing dari Industri Musik

Membangun brand memang memiliki banyak persamaan dengan mengembangkan karier dalam industri musik. Dan brand pun banyak belajar dari para musisi seperti Jay Z untuk bisa mengembangkan bisnis ke arah yang lebih baik.

Sumber Gambar: https://thesource.com/

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Tags:
No items found.

Related articles