Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Kamengski: "Dari Parodi jadi Bisnis Mumpuni"

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 25, 2020

Nyeleneh, bercanda dan usil, mungkin itu yang akan langsung ada di dalam pikiran kita ketika melihat produk-produk yang disajikan oleh Kamengski. Fenomena banyaknya anak muda yang memilih menggunakan gaya berpakaian yang lebih santai dan bertema “streetwear” namun dihadapkan dengan harga pakaian terbaru yang cukup mahal menyentil Sulaiman Said /Kamengski untuk membuat parodi dari brand-brand tersebut. Siapa sangka jika bisnis yang dibuatnya ternyata diterima di pasaran.

Awal perjalanan, Said membuat produk kaus adalah untuk bisa mendapatkan pemasukan demi bisa menyelesaikan tugas kuliahnya. Tak disangka, ternyata kaus yang dijualnya tersebut mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat. Dan hingga kini, Kamengski mungkin menjadi salah satu produk parodi yang paling dicari oleh masyarakat.

Tetapi seperti apa cara Kamengski membangun bisnisnya? Simak obrolan Academy dengan Sulaiman Said pemilik Kamengski ini.

 

Kamengski: "Dari Parodi jadi Bisnis Mumpuni"
Sulaiman Said/Kamengski

Baca Juga: Memahami Apa itu Content Marketing

Membangun konten yang berawal dari kejenuhan

Mengenai konsep awal dari Kamengski, Said mengaku karena memiliki kejenuhan dan tidak puas dengan barang yang biasa dijual. “Kita disuguhin desain, tapi kok begini-begini aja, dan semua orang mau tampil keren, jujur aja saya enggak sekeren mereka. Jadi ya udah bikin yang ngaco aja sekalian, bercanda aja,” begitu ungkap Said mengenai awal mula membangun konsep dari Kamengski.

Keunikan lain dari konsep yang ditawarkan oleh Kamengski ini, juga karena baginya ada beberapa hal lucu yang dia temukan dari pengamatan sehari-hari yang menarik kalau dijadikan produk visual. Beberapa contoh ide tidak biasa Kamengski ini antara lain, spanduk pecel lele dan soto lamongan yang mungkin sudah tidak asing lagi di mata orang Indonesia.

Dan ini merupakan upaya baginya untuk mengembalikan esensi dari streetwear yang seharusnya. “Streetwear kok ditaruhnya di mal, harganya kok enggak kayak namanya ‘jalanan’. Karena itu, saya mengaplikasikan apa yang ada di jalan, kayak spanduk pecel lele dan soto lamongan ke dalam karya. Dan itu (menentukan desain) dari pengamatan saja,” ujarnya, bahwa dia tidak melakukan survei dalam memilih desain produknya.

Kamengski: "Dari Parodi jadi Bisnis Mumpuni"
Sumber Gambar: Instagram @kamengski

Menyajikan konten untuk memberikan perbedaan

Said mengungkapkan bahwa dirinya tidak memiliki trik khusus ketika sedang merancang strategi pemasaran bagi Kamengski. “Maksudnya, kalau ngomongin dari segi pembuat, gimana caranya orang lain bisa tahu apa yang kita perbuat, kalau zaman sekarang itu otomatis pasti posting (di media sosial). Dan soal strateginya itu belajar sendiri, karena ngalamin, jadi tahu bagusnya gini atau mending dibuat seperti ini,” ujar Said lagi.

Walau tidak terlalu memikirkan soal strategi apa yang perlu diterapkan, Said mengatakan cara agar para calon konsumen mengenal suatu brand adalah dengan sering-sering menyajikan konten pada media sosial. “Semakin sering kita melakukan, orang pasti semakin tahu ‘oh dia itu begini. Kalau mau mencari barang ini ya di sini’,” Said menambahkan.

Kalau menelisik media sosial milik Kamengski, mungkin kita menjadi tahu cara untuk memperkuat identitas brand tidaklah harus melulu menyajikan produk. Kita juga bisa menarik perhatian audiens dengan konten lainnya. Misalnya saja Kamengski memperlihatkan desain-desain menarik dan jenaka lain tetapi masih memiliki benang merah dengan produk miliknya. Dengan begitu, audiens benar-benar tahu, hal-hal apa saja yang berhubungan dengan brand terkait.

Dan ini bisa menjadi cara supaya masyarakat semakin mengenal, mengetahui pesan yang ingin disampaikan dan juga apa yang membedakan antara satu brand dengan brand lain. “Anggaplah saya orang luar. Saya rasa yang membedakan satu brand dengan brand lainnya, ya kontennya. Jadi kalau konten kita kuat, akan menjadi sedikit berbeda. Maksudnya jelas, kalau orang mendengar nama ini, kontennya akan begini, dan akan berbicara hal ini,” Said mengatakan.

Selain itu, bagi Said dengan menyajikan beragam konten juga akan membuat semakin banyak sasaran audiens yang dapat dicapai. Karena menurutnya lagi, mungkin ada konten yang bisa diterima oleh golongan audiens A, tetapi belum tentu dengan audiens B, dan untuk bisa mencapai audiens B tersebut adalah dengan menyajikan konten lain yang mungkin lebih cocok dengan selera audiens terkait.

Sumber Gambar: Instagram @kamengski

Membuat brand lokal yang dapat bersaing

Ketika ditanya soal campaign apa yang dijalankan, Said sempat mengungkapkan kalau tidak ada kampanye pasti yang ingin disampaikan. Tetapi di luar itu, dirinya juga mengungkapkan bahwa produk dan brand Kamengski ini juga memberikan nilai tambah kepada para audiensnya. “Kalau sok-sok nasionalis, karena kita menggabungkan budaya luar dan budaya lokal, dan itu bisa menjadi makna baru, arti baru. Kalau ngomongin soal akademisnya, mungkin kita enggak mau menerima mentah-mentah budaya pop dari luar, kita harus nunjukin identitas kita dari Indonesia. Jadi kita gabungin yang kayak gitu-gitu,” jelas Said.

Dan baginya sebenarnya saat ini banyak produk Indonesia yang bisa bersaing dengan brand-brand dari luar. “Kalau saya sadari, dari dulu produk luar pun bikinnya di Indonesia. Maksudnya, daripada beli, sebaiknya kita produktif saja. Produktif bikin karya sendiri toh hasilnya sama,” ungkap Said lagi.

Baca Juga: Strategi Influencer Marketing yang Diterapkan Perusahaan Startup

Melihat apa yang telah dilakukan Said di atas, tentu banyak ide yang bisa kita dapatkan ketika ingin membuat sebuah brand dan produk sendiri. Misalnya saja memulai dari sesuatu yang dekat dan biasa dilihat sehari-hari. Selain itu, Said juga menjelaskan satu hal yang membuat kita dapat bertahan dan sukses di dalam bisnis itu yaitu harus senang dengan apa yang kita kerjakan terlebih dahulu. “Kalau enggak suka, kita akan merasa terbebani. Jadi yang penting passion, kalau ada uangnya itu bonus.” ujar Said menutup percakapan di sore itu.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles