Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Farzandy Fidinansyah: Menggerakkan Bisnis dengan Melihat Peluang di Tengah Tren

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 26, 2020

Sebagai seorang pebisnis, tidak ada rumus pasti seperti apa cara terbaik untuk bisa mencapai keberhasilan dalam bisnis yang didirikannya sendiri sebelum mempraktikkan sendiri berbagai strategi marketing secara matang hingga ditemukan formula yang tepat.

Walau begitu, kini semakin banyak anak muda yang mencoba menjawab tantangan tersebut. Salah satunya adalah Farazandy Fidinansyah atau yang akrab disapa Andi, founder dan CMO Havehad, sebuah brand sepatu asli Indonesia yang namanya makin dikenal di kalangan sneakers hunter. Ia juga menjabat sebagai Director di Vluid Digital, sebuah perusahaan Digital Marketing and Branding Consultant.

The Academy berkesempatan berbincang dengannya mengenai perjalanannya memabangun bisnis sepatu selama 7 tahun ini.

 

Boleh diceritakan awal mula terjun di dunia bisnis ini?

Kalau sejarahnya, saya start bisnis Havehad ini dari tahun 2011 bersama teman-teman kampus. Awalnya, untuk lulus kuliah itu saya harus bikin business project. Real business yang memang kita develop dari ilmu-ilmu yang sudah didapatkan selama perkuliahan. Selebihnya, saya punya misi, ingin membuktikan untuk membuat bisnis yang bukan hanya untuk kelulusan saja tapi juga bikin sukses.

Setelah itu, saya dan temah-teman brainstorm, kira-kira bikin apa yang sama-sama interest. Ternyata benang merahnya, kita sama-sama punya hobi di bidang fashion dan mengerucut ke sneakers. Dari situ, barulah kita belajar men-develop permasalahan, bagaimana membangun peluang bisnis, dan bagaimana menciptakan diferensiasi terhadap produk kita. Jadi singkatnya tuh, “sneakers apa sih yang mau loe bikin dan bisa laku di pasaran”. Selama setahun kita develop konsep bersama dosen pembimbing. Dan di tahun 2011, barulah muncul konsep Havehad ini. Kita launching tanggal 3 Mei 2011, lewat media online.

 

Seperti apa konsep dari brand dan produk Anda?

Saat men-develop konsep Havehad ini, kita cari permasalahannya dulu. Waktu itu kita melihat peluang di tengah tren. Kalau kilas balik sedikit, tahun 2011 itu trennya (sepatu) boots, sepatu rapi. Bisa dibilang boots itu keren, menunjang appearance seseorang untuk tampak lebih rapi, lebih mature. Timeless tapi mostly mahal.

Saya melihat ada satu permasalahan di situ, yaitu boots pasti berat kalau dipakai seharian atau capek waktu digunakan untuk jalan jauh. Dan saya melihat, orang-orang itu kayaknya kalau bisa pakai yang enggak bikin capek kenapa enggak. Lalu kita berpikir, bagaimana caranya memanfaatkan peluang waktu itu (dengan cara) mengombinasikan tren jenis sepatu boots ini, ditambah dengan fitur kenyamanan sepatu sneakers.

Apa itu Influencer Marketing?

Lalu, seperti apa perkembangan dan tantangan selama menekuni bisnis ini?

Kalau berbicara soal perkembangannya, itu sudah cukup banyak makan asam garam, jatuh bangun. Paling berat itu masalah kuat-kuatan mental di dua tahun pertama. Kenapa berat? Karena waktu itu kita mikir kayaknya udah mantap banget nih konsepnya.

Tapi pada tahun 2011, konsep tersebut masih dianggap melawan arus. Jadi, setahun dua tahun pertama, challenge-nya adalah edukasi pasar. Memperkenalkan brand dan (mencari) awareness.

Masuk tahun ketiga dan keempat, challenge-nya adalah sales channel. Kita awalnya mau (berjualan) pakai website. Ternyata drive to purchase di website masih rendah banget dan lebih besar di offline. Nah, kita coba mulai mengaktivasi digital marketing, awalnya dengan menggunakan facebook.

Untuk beberapa brand, ketika menggunakan strategi pemasaran lewat Facebook memang mendatangkan kesuksesan, tetapi ternyata untuk Havehad ini enggak segitu berhasil (hasil penjualan lewat facebook). Di tahun 2014-2015 kita coba evaluasi. Pasar kita ini sebenarnya bisa dijangkau lewat mana?

Ternyata tahun 2014-2015 itu adalah the rise of Instagram dan penggunanya lagi banyak-banyaknya. Lalu kita coba pindahin semua aktivitas digital marketing dan menyiapkan strategi bagaimana meng-approach customer lewat Instagram.

Mungkin bisa dibilang kita salah satu brand yang waktu itu aktif merapikan etalase produk di Instagram dan growth-nya lumayan signifikan. Selama dua tahun itu kita berhasil meramu konsep di Instagram.

Namun, ketika kita lagi naik-naiknya, tahun 2016-2017 kita menghadapi challenge baru lagi dari internal. Kita bermasalah sama produksi di pabrik dan harus pindah pabrik karena enggak bisa produksi di situ lagi.

Ibaratnya, kalau kenal sama orang baru segala macam itu kan butuh proses. Adaptasi. Itu wasting time dan wasting energy sekali. Cukup lama juga untuk kita bisa bertemu dan cocok dengan vendor baru, menghabiskan waktu hampir setahun.

Tahun 2018 kemarin kita baru bisa recover, muncul lagi ke pasar dengan pendekatan yang baru. Kita total rebranding. Jadi setelah 6 tahun, kita masuk lagi ke pasar dengan logo baru, tampilan baru, produk yang relatively kita agak pindah pasar sebenarnya. Dari pasar yang agak young adults menuju mature, sekarang kita mau coba sasar ke pasar yang lebih younger. Menyasar milenial.

Klik disini untuk bekerjasama dengan Influencer terbaik di Asia Tenggara 

Strategi pemasaran apa yang Anda rasa paling berhasil untuk brand Anda?

Strategi marketing yang kita highlight paling berhasil adalah, saat kita shifting ke Instagram pada tahun 2014, kita bikin campaign yang namanya #keyperson dan #casualyetclassy. Itu dua campaign yang selalu kita sampaikan.

Tagar #casualyetclassy itu adalah salah satu jargon kita untuk mengomunikasikan ke potential audience, “sepatu Havehad tuh apa sih?” Sepatu yang santai tapi juga classy. Dari situ agak lumayan mudah dicerna sama orang-orang. Yang awalnya kita susah edukasi lama-lama (masyarakat tahu) “oh sepatu yang kayak gini”.

Nah untuk bisa memperkuat positioning itu, kita lakukan strategi yang kedua. Untuk building brand image itu kita lakukan strategi campaign #keyperson. Kita lakukan collaboration dan co-creation bersama influencer dan brand lain.

Seberapa penting peran media sosial sebagai media pemasaran Anda?

Kalau bicara soal seberapa penting, in this current situation, dengan market yang seperti ini, growth of internet dan social media, menurut saya sangat penting. Apalagi kalau memang strategi penjualannya adalah bisnis online. Pakai website, ecommerce, marketplace, pasti penting sekali untuk menyuarakan brand dan produk kita lewat media sosial. Kenapa penting? Pertama karena accessible, siapa pun gampang terekspos sama produk kita. Dulu saya kalau lewat strategi offline harus satu-satu. Itu lumayan menyita energi sama waktu. Kalau media sosial, kapan pun itu bisa dijangkau dan bisa cepat update.

Yang kedua, orang jadi punya banyak inspirasi. Kalau dulu, orang mau beli banyak pertimbangan, mereka berpikir “cocok enggak ya, jadi beli enggak ya?” Sekarang dengan adanya media sosial, sumber inspirasi gaya pun jadi banyak, (bisa melihat) dari Pinterest, influencer, Instagram. Ketika (masyarakat) buka explore (di media sosial), tiba-tiba ada suatu brand yang jualan, mereka mau langsung beli. Itu salah satu pentingnya media sosial.

 

Platform media sosial yang Anda anggap paling efektif?

Sejauh ini sih masih Instagram. Tapi saya yakin ke depannya platform media sosial itu akan shifting. Karena kita selama 7 tahun juga sudah shifting, dari mulai Twitter, ke Facebook, lalu ke Instagram. Mungkin nanti akan ada platform baru yang bisa dipakai. Contohnya content marketers platform, apps, atau pun affiliate marketing.

 

Kelebihan dan kekurangan media sosial sebagai media pemasaran?

Kelebihannya, kalau untuk set up yang pasti no cost. Kelebihan lainnya adalah, kita bebas untuk mengatur konten yang mau ditampilkan, tetapi secara tidak langsung juga full responsibility terhadap konten-konten tersebut,

Selanjutnya, media sosial itu mirip seperti rantai, once you put your content there, kita bisa bekerja sama dengan stakeholder di dalamnya, baik itu audiens, influencer, atau pun sistem dalam algoritma platform. Contohnya seperti meme. Itu kan enggak ada yang tahu siapa yang nge-post, tiba-tiba sudah menyebar ke mana-mana, dalam hitungan menit bahkan detik, enggak sampai satu hari konten itu bisa tersebar. Itu kan sebuah rantai ya. Itu salah satu kelebihan media sosial menurut saya.

Kekurangannya, mungkin karena memang ada aspek freedom of expression di situ, terkadang banyak konten atau pun feedback di dalam platform media sosial yang sulit untuk dikontrol. You need to put respect on the publisher either on the other audience yang komentar di situ. Terus kedua, kekurangannya, banyak kontributor konten yang mungkin tidak memerhatikan etika. Etikanya apa? Seperti you need to put credits on other content, you need to... at least mention.

 

Ke depannya apakah strategi digital marketing bisa mengambil alih strategi marketing konvensional?

Saya pernah baca satu quote yang menyebut “there is no such thing as digital marketing”. Tapi menurut saya pribadi, digital marketing itu eksis. Karena pendekatannya pun berbeda. Tapi ke depannya yang lebih baik itu adalah bentuk kolaborasi traditional marketing dan digital marketing. Menurut saya itu lebih efektif secara dampak.

Kenapa? Karena itu salah satu komponen integrated marketing juga. Karena enggak semua segmen market bisa kita penuhi di digital begitu pula di traditional marketing.

Kedua karena tergantung produknya. Kayak produk-produk komoditi tertentu enggak butuh digital marketing. Menurut saya harus ada kolaborasi yang terintegrasi. Nah, itu ke depannya menarik. Karena menurut saya, apa pun channel-nya kalau memang strategi marketing-nya bisa di-develop secara baik dan tepat channel-nya, itu pasti akan berhasil. Jadi bukan mana yang paling bagus.

 

Apa itu Influencer Marketing?

Rencana ke depan untuk Havehad?

Ke depannya kita ingin bikin satu gebrakan, sebuah kolaborasi produk yang menarik untuk market. Mungkin belum bisa cerita sekarang, karena masih development. Tetapi beberapa bulan ke depan kalau mempang sudah rampung di tahun ini, kita akan kolaborasi produk yang memang mungkin bisa menjawab tantangan dan permintaan market saat ini.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles