Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Adli Sudjatmiko: Strategi Kolega Coworking Space Membangun Konten untuk Target Market Berbeda

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 26, 2020

Dalam dunia bisnis, usia bukan patokan penentu apakah bisnis yang dijalankan bisa berhasil atau tidak. Buktinya saja, kini makin banyak anak muda yang mencoba merintis bisnis mereka sendiri dari berbagai bidang. Salah satu yang saat ini sedang berkembang adalah bisnis rental tempat bekerja atau yang lebih dikenal dengan sebutan coworking space.

Bisa dibilang bisnis ini sedang naik daun, karena kini sudah banyak masyarakat yang memilih untuk bekerja sebagai freelancer atau membuka usaha sendiri. Dan coworking space menjadi salah satu sarana mereka untuk dapat bekerja secara produktif dan juga efektif.

Baca Juga: Memahami Apa itu Content Marketing

Tetapi bagaimana cara membangun bisnis ini? Simak obrolan kami bersama Adli Sudjatmiko selaku Co-Founder dari Kolega Coworking Space.

Upaya Kolega untuk menarik market

“Waktu pertama kali bikin coworking space, mungkin market-nya masih kecil. Tapi sekarang coworking space sudah dilihat bukan cuma oleh UKM, freelancer atau startup, tapi juga oleh korporasi dan government,” begitu ungkap Adli mengenai peluang bisnis coworking space saat ini.

Sebagai cara untuk dapat menjawab tantangan tersebut, Kolega sendiri ingin berpenetrasi dengan berusaha membangun ruang di setiap tipe gedung, misalnya saja dengan membuatnya di rumah, di gedung perkantoran, atau di gedung dengan tema yang unik seperti dibuat dari kayu.

Hal ini merupakan salah satu upaya baginya agar tidak mengotak-kotakkan pasar dan agar setiap tipe market yang datang ke kolega dapat merasa nyaman dan produktif.

Tidak hanya itu, salah satu cara Kolega untuk bisa menarik minat masyarakat adalah dengan membuat berbagai event yang beragam untuk setiap target audiens. “Kadang, member yang bekerja di Kolega, bukan hanya ingin bekerja, tetapi juga ingin mempunyai balance lifestyle. Jadi dia bisa menyalurkan hobinya di dalam Kolega. Itu sih tujuannya (diadakan event),” ujar Adli lagi.

Selain event, cara lain untuk bisa menggapai masyarakat luas yaitu dengan menyajikan konten-konten di media sosial mereka.

Memahami Apa itu Content Marketing

Konten yang disajikan

Bagi Adli sendiri, konten yang dipublikasikan di media sosial merupakan hal yang penting bagi media pemasaran mereka. “Karena dari konten itulah akhirnya terbentuk perspektif orang terhadap suatu produk. Mereka bisa mendapatkan first impression yang baik dan benar terhadap suatu produk,” ungkap Adli.

Lalu seperti apa konten yang disajikan oleh Kolega ini?

Di dalam pembuatan kontennya, mereka menggunakan pendekatan yang berbeda pada setiap tipe target market yang beragam.

“Misalkan kalau saya menspesifikasikan target kepada corporate, konten yang dibuat lebih menunjukkan ‘how beautiful is our space',” ujar Adli. Kenapa? Karena untuk perusahaan besar sampai ke later stage startup mereka perlu tahu seperti apa kenyamanan bekerja di coworking space.

Alasan menunjukkan hal tersebut, terkadang karena mereka sudah mengalami bekerja di traditional office space yang mungkin terkesan kaku. Sementara, mengapa para target market itu ingin menggunakan coworking space adalah, “Homie, cozy dan produktif. Jadi harus nyaman kayak di rumah, cozy seperti di kafe, tetapi harus produktif seperti di kantor,” lanjut Adli.

Memahami Apa itu Content Marketing

Ketika menyasar generasi milenial, konten yang dibuat oleh Kolega lebih sekitar siapa saja orang yang bekerja di Kolega. “Karena mereka (generasi milenial) benar-benar suka untuk mengeksplor,” kata Adli. Maka, dengan konten tersebut, banyak para milenial bisa mempelajari banyak hal dari kegiatan dan orang-orang yang berkecimpung di dalam Kolega dan tertarik untuk bergabung bersama mereka.

Untuk memperkuat posisi itu, Kolega membuat campaign utama yang mereka beri nama, #gotongroyong.

Hashtag #gotongroyong menjadi cara mereka untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa ketika bergabung di dalamnya, para member bisa saling berkolaborasi. “Dan akhirnya mereka bisa membentuk suatu produk atau jasa yang bisa membangkitkan servis lain tanpa harus merugikan orang lain,” ujar Adli.

Dan melalui publikasi ini, akhirnya memang banyak masyarakat yang tertarik untuk bisa bergabung bersama Kolega, dan banyak di antara para member tersebut yang membentuk suatu kolaborasi yang bersimbiosis mutualisme.

Hal lain untuk bisa menarik minat masyarakat adalah dengan bekerja sama dengan para influencer. Bentuk kerja sama yang dibuat adalah dengan barter value. Mereka membuatkan event untuk para infuencer, dan dengan begitu influencer bisa mengutarakan pesan yang ingin mereka sampaikan.

“Dan barter value-nya kita dapat publikasi di akun pribadi pribadi media sosial mereka,” kata Adli.

Baca Juga: Strategi Influencer Marketing yang Diterapkan oleh Perusahaan Startup

Menjalani bisnis ini memang dibutuhkan strategi yang matang. Dan dengan membuat sebuah konten yang bisa mencapai target pasar, maka bisnis yang dijalankan pun berhasil mencapai tujuannya.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles