Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Tantangan Influencer Marketing dan Solusi Menghadapinya

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 18, 2020

Bekerja sama dengan influencer kerap menjadi salah satu strategi yang paling efektif bagi brand untuk memenangkan perhatian audiens agar produk atau jasa mereka semakin dikenal oleh masyarakat luas. Dan karena hasilnya yang kerap memuaskan, membuat banyak brand yang memanfaatkan strategi influencer marketing ini tanpa berpikir panjang demi bisa mencapai objektif yang telah ditargetkan.

Walau begitu, strategi influencer marketing ini juga kerap memiliki tantangannya tersendiri. Seperti apa tantangannya? Bagaimana menghadapinya agar kolaborasi yang dilakukan dapat berjalan efektif dan sama-sama bisa mencapai tujuan yang telah ditentukan?

Baca Juga: Memahami Influencer Marketing

Tantangan dalam influencer marketing

Banyak memang yang kerap dihadapi ketika sebuah brand bekerja sama dengan influencer atau pun sebaliknya. Dan salah satu tantangan yang paling sering dihadapi adalah soal komunikasi.

Pada acara Indonesia Creative Meetup (IDCM) yang diselenggarakan GetCraft pada bulan November 2018 lalu, salah satu pembicara, Widi Prastomo, Social Media Manager GO-JEK menyatakan kalau “klien banyak mau dan tidak mau tahu.” Dan ini yang kerap menjadi persoalan bagi para influencer yang merasa bahwa komunikasi yang dilakukan oleh brand itu satu arah, terkesan kaku, dan tidak mau mendengar apa yang menjadi masukan dari influencer. Padahal bentuk komunikasi seperti itu yang kerap membuat influencer tidak nyaman dan dikhawatirkan nantinya konten yang disampaikan menjadi tidak maksimal.

Sementara itu, dari sisi brand, tantangan komunikasi yang kerap dihadapi adalah slow response dari para influencer. Dan ini yang membuat brand merasa kesulitan untuk tetap mengacu pada timeline yang telah mereka tetapkan.

Tantangan kedua ketika berkolaborasi dengan influencer adalah mengenai brief. Tidak sedikit influencer yang menganggap kalau brief yang diberikan oleh klien kurang lengkap dan terkadang suka berubah di tengah jalan. Inilah kesulitan yang kerap dihadapi para influencer dalam menyampaikan konten yang sudah mereka produksi. Namun sebenarnya, perubahan brief dari klien ini kadang sering dimaklumi oleh para influencer selama sifatnya tidaklah perubahan yang major, seperti mengganti hashtags atau caption, dan selama tidak berpengaruh pada proses produksi konten tersebut. Padahal, perubahan brief seperti ini juga bisa menjadi kendala sehingga timeline menyimpang atau campaign yang berjalan menjadi tidak optimal.

Sedangkan kendala yang dihadapi brand adalah konten yang disampaikan oleh influencer kadang tidak sesuai dengan brief yang sudah mereka sepakati. Kerap kali ada beberapa detail penting bagi klien tetapi tidak tersampaikan oleh influencer melalui kontennya. Social Media Manager GO-JEK, Widi pada kesempatan yang sama juga menyatakan kalau dirinya sering menghadapi seperti influencer yang merasa berpengalaman dan terkadang sering mengambil jalan pintas dalam produksi kontennya. Sebenarnya bagi brand sendiri, konten sesuai brief itu menjadi hal yang penting agar pesan yang ingin mereka sampaikan kepada audiens bisa diterima dan "suara" dari brand itu tidaklah bias.

Memang banyak tantangan yang dihadapi oleh brand maupun influencer ketika sedang berkolaborasi dalam membangun campaign influencer marketing, namun dua tantangan yang sering menjadi highlight dari keduanya adalah masalah komunikasi dan juga brief.

Baca Juga: Kiat Membuat Brief yang Baik Untuk Influencer Marketing

Solusi dalam menjawab tantangan influencer marketing

Pentingnya membangun komunikasi dan hubungan yang baik menjadi hal penting agar influencer marketing bisa mencapai objektif yang telah ditentukan. Komunikasi yang dijalankan ini sebaiknya dilakukan dua arah, saling mendengar insight, dan mengesampingkan ego masing-masing. Dengan begitu, komunikasi menjadi lebih lancar, hubungan antara brand dan influencer juga menjadi lebih baik. Campaign marketing pun dapat berjalan lebih efektif.

Selain itu, Michael Gunawan pada IDCM di bulan November lalu juga menyatakan bahwa, seorang influencer itu perlu untuk responsif dan jangan sulit untuk dihubungi. “Your attitude determine your career,” ungkapnya. Karena dengan bersikap sopan seperti itu, akan membuat brand akan lebih menghargai si influencer tersebut.

Sementara dari segi brief, seorang influencer juga akan lebih menghargai brand ketika mereka bisa memberikan brief secara detail dan lengkap. Brief yang ideal bagi para influencer itu adalah yang dapat memaparkan apa yang menjadi objektif campaign, seperti apa konten yang perlu diproduksi, baik itu dari sisi foto atau video maupun caption dan pesan yang ingin disampaikan. Dan hal ini akan membuat influencer nyaman bekerja sama dengan brand, konten yang disampaikan sesuai, dan membuat objektif yang sudah ditentukan tercapai, sehingga pada akhirnya dapat memupuk hubungan yang baik antara keduanya. Kepercayaan pun dapat terjalin dan reputasi baik bagi brand maupun influencer dapat terus terjaga bahkan dapat meningkat.

→Klik link ini untuk bekerja sama dengan Influencer ternama di Indonesia 

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles