Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Kapan Saat yang Tepat untuk Melakukan Revamp Website?

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 19, 2020

Dalam mengembangkan strategi digital marketing, elemen penting supaya brand bisa menarik perhatian audiens adalah dengan menyajikan situs yang bisa menggugah selera para audiensnya. Dan, ada kalanya kehadiran website resmi ini bisa jadi lebih efektif dampaknya dibandingkan menyajikan konten-konten lewat media sosial.

Alasannya, melalui sebuah situs, brand bisa menyajikan informasi-informasi penting mengenai produk hingga business story, bahkan juga bisa menjadi tempat di mana para calon pelanggan dapat memahami fungsi dari produk yang ditawarkan, sampai nantinya memiliki keputusan untuk menghubungi brand karena terkesan dengan apa yang ditawarkan perusahaan.

Walau memang penting, tetapi ternyata masih banyak pula situs perusahaan yang sulit untuk menyampaikan pesan mereka kepada para konsumen potensial. Dan salah satu alasan mengapa komunikasi yang terjalin tidak lancar karena situs yang dikelola tampilannya terbilang outdated. Untuk itu, agar situs bisa kembali mendapat perhatian dari para audiens, yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan revamp pada website milik brand tersebut.

Baca Juga: Memahami Apa itu Content Marketing

Dan berikut beberapa tanda sudah saatnya situs brand perlu melakukan revamp.

Situs tidak user-friendly

Berdasarkan data dari Invisionapp, 88% pelanggan online tidak ingin kembali mengunjungi sebuah situs ketika sudah merasakan pengalaman yang buruk ketika mengakses website terkait. Karena itu, para marketers perlu membuat desain situs yang menarik dan user friendly supaya bisa terus mengundang audiens untuk mau mengunjungi situs kita secara berkala.

Sebagian besar bisnis tentu memiliki rentang pengguna produk/jasa yang besar dan berbeda, dan tentunya kita juga ingin mengomunikasikan pesan tersebut kepada sebanyak-banyaknya audiens. Tetapi kalau terlalu memaksakan dan membombardir audiens dengan konten yang kurang menarik, terkadang membuat masyarakat merasa berlebihan dan sulit untuk mencerna pesan-pesan yang diberikan.

Selain itu, jika situs terkait menyulitkan audiens ketika diakses dan memberikan kesan pertama yang buruk, hal ini dapat pula menjadi tanda untuk me-revamp situs  tersebut.

Ketika situs terlihat biasa saja/ketinggalan zaman

Umumnya, umur dari tren desain adalah 4 tahun. Dan kalau sudah melebihi jangka waktu tersebut, bisa jadi situs yang dikelola sudah ketinggalan zaman dan tidak lagi menarik perhatian audiens. Maka itu kita perlu untuk kembali memperbarui desain dari situs yang dikelola dan membuatnya semakin menarik.

Dalam membuat desain situs, kita bisa membayangkan bahwa para audiens akan membeli produk tersebut dari toko-toko fisik. Seperti apa kira-kira tema atau desain toko yang bisa mengundang para pengunjung agar tertarik untuk membeli produk dari toko tersebut lalu mengimplementasikannya dalam website yang kita buat. 

Tidak responsif saat dibuka lewat mobile

Sudah jelas kalau saat ini lebih banyak audiens yang lebih senang browsing internet melalui handphone atau tablet dibanding menggunakan desktop. Karena itu, memiliki situs yang mobile atau tablet-friendly menjadi sangat penting agar bisa mengonversi audiens menjadi pelanggan.

Tidak merefleksikan nilai brand

Mungkin kita telah menjalankan perusahaan selama beberapa tahun dan kita telah beberapa kali mengubah business model dari brand yang kita jalankan. Nah, tetapi setelah perubahan tersebut, apakah situs brand yang dikelola masih tetap menampilkan nilai brand?

Secara tidak langsung, ketika kita mengubah business model dari brand yang kita kelola, maka audiensnya pun akan berubah. Karena itu kalau website yang dikelola tidak dimodifikasi maka ditakutkan menjadi tidak relevan lagi, dan para audiens menjadi enggan untuk mengikuti dan mencari informasi lewat situs tersebut. 

SEO yang buruk

Salah satu tujuan utama mengapa brand ingin mengelola website adalah supaya dapat lebih mudah ditemukan oleh para calon konsumen melalui internet. Dan untuk bisa mencapai tujuan tersebut, yang bisa kita lakukan adalah dengan mengoptimalkan kata kunci situs dan konten di dalamnya melalui mesin pencarian. Dengan SEO yang baik, maka situs yang dikelola akan berada pada ranking yang tinggi pada mesin pencarian dan memudahkan masyarakat untuk menemukannya.

Untuk mengakali agar SEO kita dapat lebih baik, sebnarnya kita bisa menggunakan beragam tools yang sudah tersedia, tetapi penggunaan tools ini kerap kali menemukan berbagai permasalahan teknis. Dan untuk meminimalisir hal tersebut, yang mungkin bisa dilakukan oleh para pemasar adalah dengan mengubah desain dari situs yang dikelola. 

User experience (UX) yang menyulitkan audiens

Tentunya kita ingin situs yang dibuat bisa tampil secantik mungkin. Tetapi kalau ternyata grafik dan gambar yang ditampilkan malah membuat situs menjadi sulit untuk digunakan dan membingungkan audiens, maka bisa menyebabkan mereka akan enggan kembali mengunjungi situs tersebut.

Atau, jika grafik dan gambar malah memberatkan situs tersebut, dan memperlambat proses loading (lebih dari 5 detik) saat diakses, maka bisa juga membuat para audiens akan meninggalkan situs tersebut. Karena itu, kita perlu membuat desain yang menarik perhatian namun tetap membuat audiens nyaman untuk menggunakannya dan memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. 

Tidak mendapat konversi yang diharapkan

Tujuan dari menjalankan situs bisnis adalah supaya dapat membantu brand dalam menarik leads, atau meningkatkan penjualan. Dan jika situs yang dikelola tidak bisa mencapai tujuan tersebut, hal ini dapat berarti situs yang dibuat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh audiens. 

Dan kalau menghadapi permasalahan yang demikian, maka sudah saatnya bagi kita untuk melakukan revamp pada situs yang kita kelola. Ketika sedang melakukan pembenahan situs brand, kita juga bisa menambahkan berbagai Call-to-Action yang mungkin dapat memaksimalkan penjualan atau mengonversi audiens menjadi leads

Supaya dapat mengetahui apakah situs tersebut bisa mendapatkan tingkat konversi yang diharapkan, kita bisa mengeceknya melalui Google Analytics dan membaca insights yang diberikan. Atau dengan melakukan A/B testing untuk membantu menemukan bagian situs mana yang performanya tidak maksimal dan mana yang terbaik.

Pada akhirnya, tingkat konversi yang buruk dapat menjadi tanda yang jelas untuk memerbaiki situs yang dikelola.

Baca Juga: Panduan Ukuran Gambar Pada Media Sosial 2019

Nah, berdasarkan tanda-tanda di atas, apakah situs yang Anda kelola sudah perlu untuk melakukan revamp?

Ingin bekerja sama dengan para desainer ternama untuk revamp situs yang dikelola? Silakan langsung klik link berikut.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles