Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Mempelajari Strategi Content Marketing dari Para Musisi

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 26, 2020

Serunya membangun sebuah kampanyecontent marketing itu sama seperti membuat album musik. Bagaimana kita mencari pasar yang tepat, materi yang memikat atau menentukan karakteristik suara, pesan atau genre yang ingin kita sampaikan.

Bayangkan saja, dalam sebuah album tentu ada satu lagu yang selalu diandalkan (champion content), di mana lagu itu seperti "anak emas" dan dipersiapkan secara matang agar dapat mendongkrak popularitas musisi. Misalnya dengan cara dijadikan single, disebarkan lewat radio, dibuat video clip, dipromosikan melalui media sosial dan akan dinyanyikan pada setiap konser.

Sama seperti di dalam kampanye content marketing, kalau kita menemukan satu konten yang bisa mendatangkan traffic tinggi, tentu kita akan mendorong konten tersebut melalui media sosial, bahkan sampai memanfaatkan paid ads agar semakin banyak calon konsumen yang mau membeli produk atau jasa yang ditawarkan.

Kalau melihat hal di atas, tentunya membangun strategi kampanye content marketing dan strategi promosi album itu memiliki beberapa persamaan. Ada pula beberapa strategi content marketing lain yang dapat kita pelajari dengan memperhatikan cara pemasaran para musisi berikut.

Baca Juga : Memahami Apa itu Content Marketing

Mengandalkan jumlah volume yang besar

Siapa sih yang enggak suka Beyonce? Mungkin lagu-lagu hits dari diva satu ini enggak pernah lepas dari playlist yang wajib dinyanyikan waktu karaoke-an (walau harus mengeluarkan urat-urat di leher supaya totalitas waktu nyanyi "Love on Top"). Tetapi, selain memiliki suara yang patut diacungi jempol, Beyonce juga merupakan seorang yang jenius dalam hal memasarkan album. Misalnya ketika dia launching album kelimanya di tahun 2015.

Dedikasi Queen B dalam mempromosikan album ini tidaklah main-main. Bukan hanya mengandalkan kualitas musiknya, Beyonce juga menyajikan beragam konten menarik untuk menarik perhatian penggemarnya, seperti membuat 17 video dari 14 lagu yang ada di dalam album tersebut.

Selain itu, dirinya juga membuat trailer 4 menit mengenai tour yang akan dijalankannya dan ditayangkan secara konstan pada media sosial. Hasilnya, konten ini sukses menarik lebih dari 7 juta views, dan membuktikan kalau Beyonce bukan sekadar musisi berkelas tetapi juga marketer yang andal.

Sumber Gambar : Mashable.com

Melihat dari apa yang dilakukan Beyonce, kita dapat mengetahui kalau membangun content marketing itu tidaklah cukup hanya mengandalkan kekuatan kontennya saja tetapi juga perlu menyajikannya secara rutin. Cara yang bisa dilakukan antara lain dengan membuat materi yang tidak terlalu rumit mengerjakannya, pendek-pendek saja tetapi up to date dan menarik minat audiens. Setelah itu, baru kita tambahkan dengan konten besar yang dapat membentuk kepercayaan publik terhadap brand kita nantinya.

Dengan kualitas konten yang baik dan juga disajikan berkala tentunya akan bisa meningkatkan engagement dan menjadikan brand kita top of mind di antara audiens.

Memberikan konten kecil yang menarik dan bikin rasa penasaran

Berbicara soal content marketing dan mengaitkannya dengan dunia musik, tentu kita tidak bisa mengabaikan apa yang telah dilakukan oleh Lorde. Karena melalui strategi pemasarannya, penyanyi ini dapat meningkatkan rasa penasaran masyarakat yang sukses membuat albumnya laku keras ketika album tersebut sudah dipasarkan.

Lorde pertama kali meluncurkan single perdananya "Royals" secara gratis dan eksklusif di Spotify pada tahun 2012. Lagu itu secara instan dapat menjadi hits nomor 1 pada layanan streaming tersebut, dan disusul dengan menigkatnya tingkat kepopuleran sang penyanyi secara instan.

Dan menariknya, ketika lagu itu sudah sangat terkenal, Lorde tetap diam dalam kurun waktu tiga bulan. Tidak ada video, foto, atau informasi apapun terkait dirinya. Satu-satunya hal yang diketahui tentang Lorde adalah sketsa wajah dirinya. Setelah itu, ingar bingar akan Lorde ini semakin meningkat, tetapi tidak ada satu pun yang menemukan sedikit pun informasi mengenai profil Lorde.

Mempelajari Strategi Content Marketing dari Para Musisi
Sumber Gambar : lorde.wikia.com

Lalu pada saat album yang sudah dinantikan banyak orang itu akhirnya rilis, apa yang terjadi? Banyak orang yang langsung menyerbu album tersebut untuk mengobati rasa penasaran yang mendera mereka selama ini. Dan hasilnya, album tersebut meledak di pasaran.

Dengan mempelajari apa yang dilakukan oleh Lorde, ada dua hal yang dapat kita pegang dalam menyajikan kampanye content marketing, seperti:

1. Riset di mana audiens dapat ditemukan

Alasan Lorde memilih menayangkan lagu “Royals” melalui Spotify karena dirinya tahu di mana target pasar biasa mendengarkan lagu terbaru.

2. Memangkas jarak dengan target audiens

Dengan mengeluarkan lagu “Royals” secara gratis, membuat Lorde dipercaya masyarakat sebagai musisi yang fokus pada karya, karena pada saat itu, banyak bintang pop dunia yang dianggap terlalu komersial. Sementara Lorde berani menayangkan lagunya secara gratis kepada masyarakat, dan hal ini yang membuat namanya langsung menjulang.

Tentunya kita ingin agar reputasi dari brand kita sama besarnya dengan apa yang dicapai Lorde. Dan untuk membangun reputasi itu dapat dilakukan melalui konten yang disajikan, lalu biarkan produk yang berbicara. Dengan begitu, ketika masyarakat sudah percaya dengan konten yang kita sajikan, dengan sendirinya mereka akan mempercayai bisnis yang kita jalankan.

Tidak harus selalu mengikuti arus, tetapi berikan konten yang memikat

Bagaimana rasanya kalau kita bisa membuat konten baru sendiri, tidak mengikuti rumus “viral", tetapi bisa memberikan hype tinggi di tengah masyarakat? Tentunya kita akan lebih senang menjadi trendsetter dibanding hanya mengikuti arus. Dan di dalam membangun kampanye content marketing pun kita dapat melakukan hal-hal di atas, seperti apa yang dilakukan oleh musisi Macklemore.

Salah satu alasan mengapa Macklemore begitu terkenal, karena dalam lagunya yang paling ternama “Thrift Shop”, dirinya berani meninggalkan tren yang sedang berkembang di industri musik, dan malah mengadaptasi unsur hip-hop klasik. Bukan hanya dari lagunya saja, tetapi dari segi fashion pun, Macklemore juga menggunakan pakaian seperti jaket bulu bergaya old school untuk membangun branding dirinya sebagai musisi hip-hop yang tidak mengikuti arus.

Selain itu, tema lagu yang disajikan oleh Macklemore juga tidaklah biasa. Tetapi dia mengambil topik yang sebenarnya sering menjadi pembicaraan masyarakat, namun masih jarang diangkat menjadi suatu karya.

Hasilnya, apa yang dilakukan oleh Macklemore, yakni dengan berani membuat sesuatu yang tidak mengikuti arus dapat memberikan efek besar kepada masyarakat, dan lagi bisa menarik minat mereka karena menemukan sesuatu yang fresh.

Mempelajari Strategi Content Marketing dari Para Musisi
Sumber Gambar: qulari.com

Ada 3 hal yang dapat kita pelajari dari Macklemore mengenai mencari ide untuk kampanye content marketing, seperti,

  1. Mencari tahu tren-tren yang di zaman dahulu, lalu kita tambahkan dengan ide baru yang dapat membuatnya naik lagi. Satu hal yang kita ketahui yaitu, masyarakat itu senang dengan hal yang bernuansa nostalgia.
  2. Melihat topik-topik yang sebenarnya banyak mengundang perhatian masyarakat tetapi masih belum terlalu terekspos media.
  3. Kita dapat mencari inspirasi dari kegiatan sehari-hari yang bisa berhubungan dengan semua orang.

Baca Juga: Membangun Persona Audiens dalam Strategi Content Marketing

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles