Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Shinta Nurfauzia: Bisnis Harus Jadi Solusi Atas Masalah yang Dihadapi Konsumen

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 26, 2020

Perkembangan teknologi dan komunikasi digital membuat lebih banyak bisnis baru tumbuh dari generasi muda Tanah Air. Meski begitu, banyak dari mereka yang pada akhirnya menyerah di tengah jalan karena tidak mendapatkan keuntungan yang diharapkan, atau tidak tahu harus membawa usaha mereka ke arah mana.

Menurut Shinta Nurfauzia, Co-Founder dan CEO Lemonilo, salah satu kunci agar sebuah bisnis bisa bertahan dan mendapatkan keuntungan adalah dengan menjadi solusi dari permasalahan yang kerap dihadapi masyarakat. Dari situ, akhirnya membuat orang lain mau menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan.

Seperti apa persisnya Shinta menerapkan itu untuk mengembangkan bisnisnya di Lemonilo? Simak obrolan kami dengannya, berikut ini:

Apa konsep Lemonilo, dan bagaimana Anda mulai menjalaninya?

Lemonilo is basically a tech driven brand yang bersama-sama dengan UKM dari seluruh Indonesia membuat dan mendistribusikan makanan sehat. Awalnya, makanan, dan nantinya akan ke produk-produk sehat dan alami lainnya.

Kenapa tech driven? Karena untuk research and development, we are very data driven, jadi kami memang menggunakan platform sebagai data point dan mengombinasikannya dengan market research.

Lalu alasan membuat Lemonilo, karena basically berangkat dari permasalahan. Co-founders Lemonilo itu ada tiga, saya, Johannes Ardiant dan Ronald Wijaya. Ketika kami memutuskan membuat startup, we’re always very interested with health space. Karena waktu kami melakukan riset, ternyata salah satu permasalahan kesehatan orang Indonesia bukan soal kesadaran, tapi tentang apa yang harus dilakukan untuk hidup sehat.

Soal konsumsi sehat, ada perbedaan di antara pengetahuan dan melakukan. Banyak orang Indonesia yang tahu harus makan sehat, tapi enggak mau melakukannya. Mengapa? Menurut survei yang kami lakukan, karena bagi mereka (makanan sehat) itu enggak enak. Lalu yang kedua, mahal. Dan ketiga, makanan sehat itu apa sih? "Memang saya harus jadi vegetarian, atau harus diet keto?" Definisi sehat itu apa tidak jelas.

Itulah yang kemudian kami lakukan, memecahkan permasalahan itu. Satu dari segi rasa, kedua harga, dan ketiga dari segi akses dan pengetahuan.

Pertama, saat bikin Lemonilo adalah membuat platform yang bentuknya curated marketplace. Kami menegakkan standar, apa itu produk sehat. Dan ternyata, menurut riset yang kami lakukan, ada sekitar 100 bahan berbahaya yang tidak boleh digunakan pada produk yang ingin diklaim sehat.

Setiap produk yang ada di Lemonilo pun diseleksi secara ketat, dan harus bebas dari 100 bahan yang potentially berbahaya tadi. Contohnya, MSG, pengawet, pewarna, perasa buatan, dan sebagainya. Kemudian, baru kami bisa memiliki agregasi data untuk melihat produk apa yang sebenarnya paling dibutuhkan.

Jadi, konsep Lemonilo adalah, membuat atau meng-healthify (menjadikan sehat), semua produk yang biasa kamu temukan. There will be hundreds, if not thousands of products that we are planning to launch, untuk nantinya bikin orang Indonesia lebih sehat dengan cara yang terjangkau.

Sumber Gambar: Instagram @lemonilo

Bagaimana taktik Lemonilo bersaing dengan kompetitor?

Pertama, kami berangkat dari permasalahan dan menawarkan solusi. Kedua terkait soal persaingan dengan kompetitor, tentu harus ada competitive edge, tentang apa yang membuat produk kami lebih baik dari kompetitor. Contohnya, yang kami lakukan dari segi platform adalah memastikan semua produk yang terdaftar sudah pasti sehat; dan ini tidak serius dilakukan platform lainnya.

Lalu, Lemonilo is very serious about health education, makanya kami punya nutritionist, food technologist, yang memang benar-benar secara edukasi ingin membangun mental dan pengetahuan orang-orang Indonesia untuk hidup sehat. Itu salah satu competitive edge kami.

Selain itu, network of UKM kami benar-benar kuat, bukan sekedar pengen jualan, we are further than that. Jadi kami benar-benar melihat, apakah ada potensi kerja sama antara Lemonilo dan UKM tersebut untuk melakukan co-branding, atau membuat varian produk.

Ketiga, kami sangat memperhatikan para pelanggan. Kami selalu mencoba mendengarkan konsumen dan juga mengubah arah bisnis sesuai dengan mayoritas pelanggan. Intinya, kalau bikin startup atau perusahaan atau jadi wiraswasta, it’s not about our ego, it’s actually about serving our customers.

Apa strategi marketing yang diterapkan dan dirasakan berhasil mendukung bisnis Lemonilo?

Kami sudah banyak banget mencoba strategi marketing. Dan menurut kami yang paling berhasil sampai saat ini masih mouth-to-mouth marketing yang di-digitalize; contohnya referral program.

Seperti voucher code referral, yang membagi keuntungan di antara orang yang memberikan dan diberikan voucher code. So, the psychology of why influencer marketing works, karena basically it's mouth-to-mouth marketing. It gives credibility to your product in front of the audience yang memang rekomendasinya diberikan oleh orang yang mereka ketahui.

Jadi, konsep dari memberikan rekomendasi dan mouth-to-mouth marketing, menurut kami, sampai saat ini masih lebih efektif.

Bagaimana tentang bekerja sama influencer media sosial?

Sudah banyak sekali kolaborasi kami dengan influencer, mungkin jumlahnya sudah ratusan influencer. Awalnya, kebanyakan mereka memang konsumen Lemonilo. The way we take influencers adalah we really care about the people who recommend our product, karena menurut kita, honest review is still number one.

Baca Juga : Memahami Influencer Marketing

Apa tujuan dari campaign yang dilakukan Lemonilo di media digital?

Dari sekian banyak campaign, yang paling besar menurut kami adalah mengembalikan value ke konsumen. Jadi, kami punya konsep, bahwa semua produk harus menjadi yang paling terjangkau di luar sana.

Tipe konversi atau pemasaran Lemonilo itu, kami ambil profit untuk dikembalikan pada konsumen. Misal, dalam bentuk cashback, atau harga lebih rendah. So we want to give value to the customers in terms of better pricing.

Menurut Anda, apa kelebihan dan kekurangan media sosial sebagai alat pemasaran?

Kelebihannya adalah direct relationship. Dulu, kalau kita mau mendapatkan perhatian dari jutaan konsumen, kita harus mengeluarkan uang banyak banget buat iklan. Tapi, kalau sekarang, we engage with this one. Ada influencer yang followers-nya sampai 20 juta, dan mungkin kita bisa mengambil perhatian 10 persen dari audiens mereka.

Tapi kita juga harus hati-hati dengan influencer yang membeli followers. Jadi memang mesti kita audit dulu, sebenarnya seberapa engagement mereka.

Kekurangannya, media sosial menjadi komoditi yang sebenarnya belum bisa kita pastikan. Kayak tadi aku bilang, kita coba misalnya, kasih mereka voucher code untuk mencari conversion. Kalau gagal, apakah berarti campaign-nya gagal? Belum tentu, karena mungkin influencer ini (yang kita ajak kerja sama) memang lebih cocok untuk awareness.

Jadi memang metrics-nya enggak benar-benar pakem. Berbeda dengan kalau menggunakan Google Ads misalnya. Kalau untuk influencer marketing, promosinya lebih tricky menurutku. Itu downside dari media sosial. Karena, kalau bicara soal media sosial saat ini, a bit chunk of marketing is through influencers.

Shinta Nurfauzia: Bisnis Harus Jadi Solusi Atas Masalah yang Dihadapi Konsumen
Sumber Gambar: Instagram @rarasekar

Apa tips dari Anda untuk anak muda yang menjalani bisnis?

Selalu mulai dari permasalahan. Konsep dari membuat sebuah perusahaan, produk, atau jasa adalah memecahkan persoalan orang lain. Dan solusinya harus sangat bagus, sehingga orang mau mengeluarkan uang dari kantong mereka.

Jadi, kalau misalnya, sekarang banyak startup yang belum melakukan monetization, dan mau mengembangkan awareness dulu; menurutku itu bias. Kenapa? Karena, only after you actually monetize than you will know whether your product or service is working or not. That’s being very honest. Jadi kalau bisnis yang selalu boncos gitu istilahnya, itu bukan bisnis yang bagus. You have to be able to be profitable from day one.

Kalau kita bikin perusahaan tapi enggak benar-benar tahu bagaimana cara mencari keuntungan atau monetize your service, or monetize your product, than it's not really a sustainable business. Itu berarti kita sudah buang-buang waktu, energi, dan berbohong pada diri sendiri.

Apa rencana Anda dan Lemonilo ke depannya?

Mengatasi lebih banyak permasalahan. Karena masih banyak masalah terkait healthy lifestyle yang belum tersentuh Lemonilo, so we are going into that directions. Basically we are looking at those problems and trying to solve them either through our product and services. Jadi tunggu saja.

Baca Juga : Farzandy Fidinansyah : Menggarakkan Bisnis dengan Melihat Peluang di Tengah Tren

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles