Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Prediksi Tren Content Marketing Tahun 2019

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 18, 2020

Setelah kesuksesan pemasaran di 2018, pada 2019 ini, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan para marketers seperti; content marketing masih akan menjadi satu strategi penting untuk bisa mencapai objektif suatu brand. Selain itu, dengan bergantinya tahun, maka akan berubah pula tren yang tepat untuk bisa menyasar audiens. Dan ini membuat para marketer perlu mencari pendekatan baru untuk bisa mencapai apa yang diharapkan.

Walaupun dunia marketing terus berkembang, namun ada satu strategi yang kerap membuat brand bisa menjaring audiens yang besar, dan menurut Seth Godins, saat ini hanya satu cara marketing yang tersisa dan itu adalah content marketing. Alasannya, karena bentuknya autentik, pastinya berguna bagi masyarakat luas dan sangat sesuai bagi para generasi pengguna internet. Dan ini yang menyebabkan content marketing masih menjadi andalan bagi para pemasar.

Lalu, seperti apa tren content marketing di tahun 2019 ini agar para brand bisa mencapai target audiens yang sudah mereka sasar?

Baca Juga: Memahami Apa itu Content Marketing

Konten haruslah autentik, transparan dan memiliki nilai marketing

Hal penting yang pertama, saat membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan dunia marketing bahwa autentik, transparansi, dan memiliki nilai tambah terhadap audiens adalah sesuatu yang sangat penting diperhatikan marketers.

Bagaimanapun juga, sebuah konten di dalam kegiatan content marketing, haruslah bisa merefleksikan apa yang menjadi suara dari brand terkait, misi apa yang sedang diemban perusahaan tersebut, dan juga nilai apa yang diharapkan bisa diberikan kepada target audiens.

Dan berikut di bawah ini, beberapa data yang mungkin bisa menjadi acuan bagi brand dalam mengembangkan strategi content marketing mereka.

86% pelanggan mengatakan kalau nilai autentik dari sebuah konten menjadi satu pembeda utama yang akan membawa mereka memiliki keputusan pembelian.

Menurut data dari Inc.com, 73% pelanggan juga menyatakan bahwa mereka mau membayar lebih pada sebuah produk dari sebuah brand yang menjanjikan nilai transparansi kepada mereka.

Dan, 94% pelanggan juga mengemukankan kalau mereka akan tetap loyal pada brand yang memberikan mereka transparansi yang sejelas-jelasnya.

Karena itu, content marketing yang dijalankan perlu untuk transparan, agar nantinya para target konsumen mereka memiliki kepercayaan terhadap produk atau jasa yang disajikan dan juga akan membuat brand bisa terus melangkah maju tanpa memiliki permasalahan besar dengan para audiensnya.

Tujuan dalam membangun kegiatan content marketing itu semata-mata bukanlah untuk menjual produk atau mempromosikan brand. Lebih jauh, content marketing berfungsi untuk memberikan nilai tambah kepada audiens melalui identitas dari brand tersebut, seperti mengedukasi, memberikan hiburan kepada audiens dan lain sebagainya. Dengan begitu, konten yang tadi dibuat akan membuat pelanggan memberikan kepercayaannya dan perusahaan mempunyai nilai yang positif.

Lalu bagaimana cara terbaik untuk bisa memberikan nilai tambah kepada audiens melalui content marketing? Konten yang disajikan haruslah sejalan dengan keseluruhan pesan dan misi brand, bisa membantu para target audiens mencapai apa yang mereka inginkan melalui produk atau jasa yang ditawarkan, serta bisa menarik ketertarikan audiens untuk mau terlibat pada pesan yang disampaikan brand.

Membuat konten yang personal dan interaktif

Marketing Insider pernah mengungkapkan kalau 78% dari para pelanggan menyebutkan bahwa konten yang relevan secara personal merupakan faktor penting yang akan mempengaruhi keputusan pembelian mereka, serta dengan menambah nilai personal, maka bisa meningkatkan 500% dari pengeluaran konsumen.

Lebih jauh, Jeff Bullas menyatakan kalau konten yang diberi sedikit sentuhan interaktif bisa memberikan diferensiasi dari para kompetitor mereka, dan akan meningkatkan engagement target audiens terhadap konten. Dan ini membuat konten bersifat personal dapat menjadi tren di tahun 2019.

Salah satu konten interaktif namun pula bernada personal dan banyak mendapat perhatian dari audiens adalah membuat live video melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram dan Facebook. Karena di dalamnya, brand bisa menempatkan sesi tanya jawab yang memudahkan audiens untuk mengenal brand, atau membuat video how-to yang menarik para audiens untuk terlibat di dalamnya.

Kolaborasi antar brand

Saat ini semakin banyak brand yang saling bekerja sama untuk membuat konten dengan beragam varian. Beberapa contoh kolaboratif yang sering mendapat perhatian dari masyarakat antara lain, dengan menyajikan wawancara lewat podcast (di mana pewawancara bisa dari brand terkait dan mewawancarai narasumber dari brand lainnya lagi). Kita juga bisa membuat kolaborasi konten yang berisi research atau case study dan social media takeover.

Salah satu tujuan utama dalam mebuat sebuah konten kolaboratif adalah untuk menjalin kerja sama dengan brand yang menawarkan produk atau jasa yang memiliki audiens yang sama dengan kita. Atau bekerja sama dengan brand yang memang sudah memiliki pengalaman, kemampuan dan pengetahuan mengenai cara membangun content marketing yang baik sehingga dapat membuat nama brand bersinar bersamanya.

Memanfaatkan micro-moments

Google mengkategorikan beberapa micro-moments dalam berbagai segmen:

1. I-want-to-know-moments: Ketika seseorang sedang melihat-lihat suatu barang atau jasa, tetapi sebenarnya mereka tidak benar-benar berkeinginan untuk membeli. Mereka hanya ingin melihat-lihat barang atau jasa apa yang kira-kira bagus bagi mereka.

2. I-want to-go-moments: Ketika seseorang sedang mencari produk dari bisnis-bisnis lokal, atau sedang mempertimbangkan membeli produk dari toko-toko terdekat dengannya

3. I-want-to-do-moments: Ketika seseorang mencari produk atau jasa untuk membantu menyelesaikan pekerjaan mereka atau sedang mencari sesuatu yang benar-benar baru dalam hidup mereka.

4. I-want-to-buy-moments: Ketika seseorang sudah siap untuk melakukan pembelian dan mungkin membutuhkan bantuan dalam menentukan apa yang perlu mereka beli atau bagaimana cara membelinya.

Ada pula dua bentuk pengembangan konten dalam memanfaatkan micro-moments ini.

Yang pertama adalah dengan membuat konten yang simpel seperti menjawab beragam pertanyaan dari para audiens. Walaupun sebenarnya ada waktu dan tempat bagi sebuah konten dengan bentuk yang lebih panjang. Namun ada pula beberapa bentuk konten yang penting untuk terus dikembangkan agar bisa menarik perhatian audiens seperti, halaman FAQ, Instagram dan Facebook Story, serta beberapa konten audio.

Kedua, kita perlu membuat sebuah konten dengan format paling efisien dan disampaikan melalui channel yang paling tepat. Seperti misalnya, konten untuk menjelaskan cara pembayaran, lebih baik ditaruh pada halaman FAQ dibandingkan membuat sebuah video berdurasi 5 menit.

Baca Juga: 4 Kampanye Content Marketing Terbaik di Tahun 2018

Memang di atas baru sebagian kecil dari tren content marketing yang kira-kira akan berkembang di tahun 2019. Masih ada juga beberapa tren lain yang sebenarnya masih bisa untuk diaplikasikan untuk membuat sebuah kampanye content marketing yang terbaik.

Dan cara agar sebuah konten bisa maksimal performanya salah satunya adalah dengan cara bekerja sama dengan para pembuat konten yang sudah terpercaya. Untuk bisa lebih cepat terkoneksi dengan para kreator konten ini adalah dengan mencarinya melalui marketplace konten kreator, seperti dengan cara klik tombol di bawah ini.

Kunjungi Marketplace GetCraft

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles