Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Cara Merumuskan Konsep Konten untuk Content Marketing

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 26, 2020

Sebelum memulai kegiatan content marketing, hal yang perlu diperhatikan oleh marketers adalah merumuskan konsep kontennya. Alasannya, karena konten dalam kegiatan content marketing adalah elemen utama yang mesti ditayangkan secara konsisten, dan fokus pada pesan yang relevan dan bernilai buat audiens yang disasar.

Maka itu, konsepnya perlu dirumuskan secara khusus dan matang, agar konten yang disajikan disukai oleh sasaran audiens dan akhirnya bisa membantu brand terkait jadi lebih dekat dengan mereka.

Baca Juga: Memahami Apa itu Content Marketing

Agar konsep konten bisa membantu kegiatan content marketing mencapai tingkat hubungan yang diharapkan dengan sasaran audiens terebut, yang utama sebelum perumusannya adalah mengidentifikasi minat atau kepentingan serta kebutuhan dari audiens yang disasar.

Memahami karakteristik audiens akan membuat marketers punya modal kuat untuk merancang konsep konten yang relevan dan bernilai, serta memandu konten yang akan dibuat agar konsisten, mulai dari topik sampai gaya bahasanya.

Nah, bagaimana cara merumuskan konsep konten ini? Setidaknya ada 3 (tiga) tahap yang mesti dilalui:

  1. Menentukan tema besar (content themes)
  2. Menentukan pilar konten (content pillars)
  3. Menentukan gaya penyampaian konten (tone of voice)

Berikut penjabarannya...

Tahap 1: Menentukan tema besar (content themes)

Pada tahap pertama ini, marketers perlu mencari tahu, apa tema besar untuk seluruh konten yang akan dibuat, agar konten memiliki fokus bahasan dan tidak "lari" dari pakem yang sudah dibentuk.

Untuk menentukan tema besar ini, pemasar bisa memulainya dengan mengisi kata/kalimat yang di-highlight pada kalimat berikut ini:

[Nama brand/produk], melalui [channel konten yang akan digunakan], ingin mempengaruhi [sasaran audiens], dari [fokus masalah konten] menjadi [hasil yang diharapkan dari konten], dengan cara [solusi yang ditawarkan konten].

Contohnya:

Radio Records, melalui Instagram dan YouTube, ingin mempengaruhi anak muda laki-laki dan perempuan berusia 18-25 tahun yang aktif di media sosial, dari kurang mengenal dan mengapresiasi musik lokal menjadi apresiatif dan turut mempromosikan penghargaan terhadap musik lokal, dengan cara menyediakan informasi lengkap tentang musik lokal dan membuatnya lebih mudah ditemukan atau terjangkau oleh sasaran audiens.

Hasil dari proses identifikasi di atas merupakan dasar dari konsep konten yang dibuat. Dan solusi pada ujungnya adalah cikal bakal tema besar konten. 

Maka itu, selanjutnya adalah mengolah kalimat solusi tersebut jadi lebih ringkas dan catchy. Rumuskan ke dalam beberapa alternatif, lalu pilih yang dianggap paling menarik, tapi tetap mewakili solusi yang ditawarkan konten.

Contoh hasilnya:

"Menyediakan informasi lengkap tentang musik lokal dan membuatnya lebih mudah ditemukan atau terjangkau oleh sasaran audiens"; menjadi, "Mengenal musik lokal, lebih dekat." Itulah, tema besar kontennya!

Tahap 2: Menentukan pilar konten (content pillars)

Tahapan berikut ini adalah penentuan kategori-kategori konten utama yang diurai dari tema besar yang telah ditentukan. Hal ini akan mempermudah marketers memasikan konten yang mereka sajikan konsisten mendukung tema besar tadi.

Kalau tadi tema besarnya adalah "Mengenal musik lokal, lebih dekat.", urai apa saja kategori atau kelompok topik konten yang dipertimbangkan akan menjawab tema besar tersebut.

Contohnya, kategori konten untuk memenuhi kebutuhan informasi tentang musik lokal, agar sasaran audiens lebih mengenalnya adalah:

  1. Ulasan album dan lagu dari musik lokal;
  2. Wawancara dengan musisi lokal;
  3. Liputan konser musik lokal;
  4. Klinik musik dari musisi lokal.

Dengan demikian, empat hal di atas adalah pilar konten dari tema besar yang sudah ditentukan sebelumnya.

Tahap 3: Menentukan gaya penyampaian konten (tone of voice)

Setelah mendapatkan tema besar dan pilar sebagai panduan utama terkait apa yang akan disampaikan melalui konten, hal yang juga penting dalam perumusan konsep ini adalah menentukan bagaimana konten akan disampaikan secara konsisten. 

Hal yang perlu dicari tahu dalam menentukan gaya penyampaian ini adalah:

  • Topik: Tentang apa yang akan dibahas atau menjadi fokus konten.
  • Laras: Terkait gaya bahasa yang mau digunakan, dan biasanya berdasarkan persona tertentu. Misalnya, bahasa keseharian anak muda.
  • Warna: Mirip dengan gaya bahasa, tapi lebih mengarah pada dialek. Contoh, anak muda dengan dialek Betawi.
  • Nada: Lebih pada corak penyampaian konten; misalnya, kocak, sinis, ramah, dan sebagainya.
  • Bias: Soal sudut pandang yang dipilih untuk menyampaikan konten (point of view). Contohnya, selalu melihat hal dari sisi negatifnya.

Jika menggunakan contoh tema besar dan pilar dari Radio Records di atas, kira-kira penentuan tone of voice-nya seperti ini:

  • Topik: Musik lokal.
  • Laras: Bahasa keseharian anak muda.
  • Warna: Anak muda yang suka mencampur-campur Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
  • Nada: Kocak, tapi garing.
  • Bias: Selalu melihat dari sisi baiknya, atau optimis.

Hasil dari penentuan di atas lah yang akan menjadi panduan terkait bagaimana konten dalam kegiatan content marketing akan disampaikan pada sasaran audiens.

Dan akhirnya, setelah melalui tiga tahapan di atas, kita bisa mendapatkan konsep konten seperti berikut ini:

Radio Records, membuat anak muda mengenal musik lokal, lebih dekat, dengan menyajikan ulasan album dan lagu, wawancara musisi, liputan konser, serta klinik musik dari musisi lokal, dengan gaya bahasa keseharian anak muda yang suka mencampur Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, secara kocak, tapi garing, namun tetap optimis!

Baca Juga: Cara Mengomunikasikan Pesan Brand Secara Efektif

Demikian cara merumuskan konsep konten yang penting diketahui marketers, untuk dasar menjalankan kegiatan content marketing, dengan konten yang relevan, bernilai, serta disampaikan secara konsisten pada audiensnya.

→Ingin bekerja sama dengan para marketers terbaik di Indonesia untuk merumuskan konsep konten kegiatan content marketing yang akan Anda kembangkan? Yuk klik link berikut!

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles