Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Tantangan Industri Kreatif Masa Kini di Mata Para Bos Agensi

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 25, 2020

“Bahwa nantinya industri kreatif harus menjadi tulang punggung Indonesia.” Begitulah ungkapan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dengan penuh optimisme terhadap perkembangan industri kreatif yang tengah berjalan di Indonesia. Pernyataan tersebut pula yang mendasari visi dan misi yang dijalankan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Dan seiring berjalannya waktu, kini semakin banyak kegiatan ekonomi kreatif yang menjadi harapan untuk meluaskan dan menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia.

Menurut data Bekraf pada tahun 2015, 1 dari 100 orang di Indonesia bekerja di industri kreatif dan menyerap 17,4% tenaga kerja dan akan terus bertambah setiap tahunnya. Data tersebut juga menyatakan pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia akan mencapai 10% setiap tahunnya. Pada tahun 2015, ekonomi kreatif memberikan kontribusi pada produk domestik bruto mencapai 922,58 triliun rupiah, meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 852,56 triliun rupiah. Dan pada tahun 2018 ini, ekonomi kreatif ditargetkan dapat memberikan kontribusi sebesar 1.000 triliun rupiah.

Perkembangan industri kreatif di Indonesia ini juga memberikan tantangan tersendiri tidak hanya bagi pemerintah, namun juga bagi para pekerja kreatif dan agensi. Tantangan ini datang dari internal maupun eksternal. Berbagai regulasi perlu disiapkan untuk mendukung para pelaku industri ini. Selain itu, persaingan yang cukup terbuka menyebabkan para pelaku kreatif dalam negeri harus terus meningkatkan kualitas mereka.

Mereka yang bersinggungan langsung dengan industri kreatif ini juga mengungkapkan berbagai tantangan yang kerap mereka temukan. Tidak sampai di situ, mereka juga menyatakan bagaimana tantangan ini berpengaruh pada pekerjaan mereka hingga akhirnya mereka menuturkan solusi dari tantangan tersebut.

Simak pandangan para entrepreneurs yang sudah melanglang buana di industri kreatif sekian lama ini.

Yoris Sebastian – Founder & Chief Creative Officer – OMG Creative Consulting

"Masalah utama adalah menciptakan usaha yang berbasis kreativitas sehingga menciptakan nilai tambah. Masih banyak wirausaha di industri kreatif yang sebenarnya masih menjual komoditas atau sebatas trader. Sehingga setelah dijalankan sekian tahun, para wirausaha ini tidak menikmati tambahan value yang besar."

Solusi:

"Pelan tapi pasti, Bekraf akan terus mendorong pelaku industri kreatif yang kuat di intelektual properti sehingga menjadi contoh untuk pelaku industri kreatif lainnya."

Ferly Novriadi – Co-Founder & Creative Business Director – BUJUKRAYU

"Kalau melihat update artikel-artikel di majalah marketing, sebenarnya in general bisnis advertising lagi bermasalah di seluruh dunia. Karena sekarang banyak klien merasa bahwa agensi tidak cukup apaptif dengan perubahan, dengan needs mereka sekarang."

Pengaruhnya terhadap pekerjaan?

"Setiap klien punya cara kerja yang berbeda. Kalau dulu banyak terjadi gesekan karena agensi sudah punya rules begitu pula dengan klien. Dan masing-masing kukuh dengan rules dan cara kerja masing-masing. Tetapi kalau sekarang tidak bisa seperti itu. Menurut saya, agensi harus ikut (cara kerja klien). Seperti misalnya, kita baru dapat satu klien dan kita mengikuti cara kerja klien tersebut. Kita adaptif.

Solusi:

"Kita harus dinamis dan adaptif dengan needs dari klien. Kalau tidak bisa berpikir, kerja secara cepat, dan tidak bisa adaptif, enggak selamat juga sih. Selain itu juga harus akrab dengan klien. Kalau dulu dekat sama klien tuh urusannya account. Tapi kalau sekarang mau gampang, kita mesti temenin, asyikin klien, ajak kerja bersama dan menjadi teamwork. Saat ide itu dibuat bersama, kemungkinan dia (klien) membunuh ide hasil pemikiran bersama akan lebih kecil."

Lydia Tarigan – Creative Director – Ogilvy & Mather Jakarta

"Kita masih terlalu malu-malu untuk mengeksplorasi lebih banyak. Harusnya dari Indonesia yang luas, bervariasi, kaya, dan sungguh diberkati dengan banyak hal ini, kreativitas seharusnya bisa lebih bermacam-macam dan tidak usah malu-malu untuk jadi beda. Mungkin bisa juga karena masih suka berbenturan dengan target bisnis, padahal seharusnya kita bisa lebih berani memberikan sesuatu yang jauh di atas, misalnya ekspektasi pasar, apa yang target market mau atau segala macam."

Pengaruhnya terhadap pekerjaan?

"Misalkan ada satu karya yang viral, daripada mencoba mengikuti formula kreatif yang sudah ada itu, lebih baik kita cari apa yang bisa diangkat dari brand itu sendiri, karena mungkin kita punya output yang berbeda. Dan ekplorasi itu lebih baik jika kita dikasih waktu untuk mencari tahu apa yang berbeda. Karena menurut saya, when it comes to creativity memang siapa yang lebih lama mikir, siapa yang lebih jauh berjalan, siapa yang lebih dalam menyelam.

Solusi:

"Solusinya lebih berani, sesimpel itu. Solusi lain mungkin untuk mengeksplorasi butuh eksposur akan banyak hal. Eksposur maksudnya tidak melihat yang itu-itu melulu dan menyerap banyak hal. Misalnya saya kerja di advertising, ada baiknya tidak melihat iklan terus, tetapi misalnya ke Ubud Writer and Reader Festival, atau melihat pameran ARTJOG, atau datanglah ke mana. Kreativitas itu memang selalu mencari banyak pintu masuk, dan pintu masuk itu akan terus tercipta kalau kita jalan dan tidak berhenti di suatu tempat."

Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik menyatakan kalau pihaknya akan terus membenahi setiap subsektor di bawah naungan Bekraf. Pihaknya juga menggandeng lembaga kajian riset global yang berpengalaman dalam meneliti industri kreatif di seluruh dunia seperti Nielsen, Intel dan PWC.

Baca Juga : Apa yang Dihadapi Agensi Masa Kini?

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles