Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Optimalisasi dengan A/B Testing untuk Meningkatkan Performa Konten

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 26, 2020

Saat menjalankan marketing campaign yang menggunakan konten sebagai bahan utamanya, kita kerap menghadapi tantangan seperti, menentukan konten apa yang sebaiknya disajikan, kenapa konten tidak menarik perhatian audiens yang disasar, sampai mengapa konten tidak mencapai target atau KPI (key performance indicator) yang ditentukan.

Hal ini bisa jadi karena saat menentukan ide dan memproduksi konten yang mau ditayangkan, kita hanya mengandalkan intuisi soal konten apa yang menarik minat audiens, bukan berdasarkan data atau analisis mendalam.

Untuk itu, ada satu cara yang bisa kita lakukan supaya bisa mengoptimalkan konten yang telah dan akan kita buat; yaitu dengan melakukan A/B test, agar konten yang kita sajikan punya peluang lebih besar menarik minat dan perhatian audiens. Bagaimana caranya?

Baca Juga: Memahami Apa itu Content Marketing

Pahami perilaku audiens dahulu

Ada istilah "tak kenal maka tak sayang". Begitupun saat kita menjalankan atau menerbitkan konten; kita perlu mengenal lebih dulu, siapa audiens yang ingin kita sasar. Dengan demikian kita bisa menyajikan konten yang menarik atensi mereka.

Kalau tidak begitu, kita bisa salah sasaran, atau pada akhirnya membuat konten yang susah payah dibuat tidak berhasil menarik perhatian audiens. Ujungnya, konten pun tidak mencapai performa yang diharapkan. Maka itu, sangat penting untuk kita mengidentifikasi perilaku dan preferensi audiens yang kita sasar. Selain itu, hal ini juga berguna untuk mendukung kegiatan A/B test yang mau dilakukan.

Untuk itu, optimalkan berbagai sumber data (seperti layanan analitik atau social media listening tool) untuk bisa memetakan kecenderungan perilaku sasaran audiens. Misalnya, cek laman situs mana yang paling menarik perhatian audiens, atau konten mana yang paling ampuh mendorong keterlibatan (engagement) audiens, bahkan membuat mereka terkonversi jadi pelanggan. Catat juga data tentang tipe konten seperti apa yang disukai audiens.

Selain data digital, kita juga bisa melakukan survei atau wawancara dengan persona audiens yang ingin disasar, lalu mencari tahu, jenis channel konten seperti apa yang mereka suka, apa alasannya, dan apa yang menjadi pertimbangan mereka terkait apapun yang berhubungan dengan konten. Informasi itu bisa membuat semakin memahami karakteristik, minat, atau kecenderungan perilaku sasaran audiens kita.

Lalu, identifikasi tujuan melakukan A/B test

Setelah kita memiliki informasi yang cukup tentang audiens kita, hal yang selanjutnya harus dilakukan adalah menentukan tujuan A/B test. Ada banyak pilihan ukuran yang mau kita jadikan landasan untuk A/B test, maka itu sebaiknya tentukan ukuran yang dianggap paling bernilai untuk memetakan performa konten, dan bisa menunjukkan dampak nyata pada bisnis kita.

Misal, tujuan utama kegiatan konten dalam marketing campaign kita adalah meningkatkan arus pengunjung (traffic) dan meningkatkan konversi dari pengunjung menjadi pelanggan konten (subscriber). Maka ukuran atau metriks yang mungkin jadi fokusnya adalah views dan click-through.

Mulai lakukan uji coba pada konten yang sudah ada, sebelum mengujinya pada konten baru

Mulai lakukan A/B test pada konten yang sudah pernah kita buat terlebih dahulu; ketimbang mencobanya pada konten baru; karena konten-konten lama sudah menjaring arus pengunjung, dan memungkinkan kita untuk memetakan, konten seperti apa atau dari pilar konten mana yang mampu menarik minat sasaran audiens.

Dari situ, kita bisa mulai mencoba menyisipkan elemen baru untuk mencapai tujuan, misalnya, menambahkan tombol 'Subscribe', untuk mencari tahu, apakah hal itu mempengaruhi perilaku audiens.

Bagaimana perbandingannya dengan konten lama yang tidak disisipkan elemen tersebut? Berapa banyak klik pada tombol yang terletak di konten lama itu, dibandingkan dengan klik pada tombol yang sama, namun terletak pada laman utama (homepage)?

Kumpulkan cukup sampel untuk dianalisis

Salah satu tujuan A/B test adalah mencari beragam data untuk kita mengoptimalkan konten pada marketing campaign yang dijalankan, melalui percobaan bertahap. Dan untuk mendapatkan data yang kompeten, kita membutuhkan sampel data yang cukup untuk dijadikan rujukan.

Dari data itu, kita bisa membuat hipotesis dari A/B test yang berlangsung, dan mulai menyesuaikan atau melakukan optimalisasi berdasarkan hasil pengujian. Hipotesis membuat interpretasi jadi jelas, dan memberikan kita arahan untuk menjalankan tindak lanjut, menerapkannya pada sebagian konten lagi, hingga mendapatkan data baru untuk optimalisasi selanjutnya.

Lakukan dalam durasi yang dibutuhkan

Meski A/B test bisa jadi terus berkelanjutan, ada baiknya kita menentukan seberapa lama kita mesti menjalankan uji data ini, dan sampai titik mana. Kenapa? Jika kita hanya melakukannya satu kali, dalam periode pendek, hasilnya mungkin terlalu prematur. Data yang dihasilkan pun berpotensi tidak relevan.

Sementara, jika periode per uji coba terlalu lama, justru bisa memperlambat kemajuan saluran konten terkait, atau membuat kita tidak cepat tanggap saat channel tersebut, sebetulnya membutuhkan optimalisasi atau perubahan format, agar performanya terus meningkat secara periodik.

Untuk mendapatkan hasil optimal, lakukan uji data untuk bagian spesifik dari channel konten kita, lebih dari sekadar satu dua kali, namun tidak berlangsung terlalu lama. Dua pekan sampai satu bulan bisa masuk kategori cukup untuk (misalnya) mengoptimalkan performa konten artikel. Tentukan target dari metriks yang mau disasar, dan amati hasil optimalisasi terhadap metriks tersebut.

Baca Juga: Memahami Google Ads dan Manfaatnya untuk Mendukung Pemasaran

Mengoptimalkan konten lewat A/B test penting, agar kita bisa terus mendorong pertumbuhan channel konten yang kita kelola, dan tentunya agar konten pendukung marketing campaign memang menunjukkan hasil yang diharapkan, serta memberikan dampak nyata pada bisnis yang dijalankan.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles