Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Mengapa Memilih Strategi Digital Marketing?

By
Dimas Gityandraputra
 •
July 23, 2020

Hadirnya pandemi Covid-19, membuat masyarakat dituntut untuk melakukan perubahan kebiasaan khususnya dalam mengonsumsi media dan juga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ini masyarakat tengah dipaksa untuk melakukan aktivitasnya dari rumah, membuat waktu yang dihabiskan secara online meningkat. Bukan hanya untuk mencari informasi dan hiburan, atau untuk berinteraksi dengan teman dan kolega, bahkan untuk belanja atau memenuhi kebutuhan sehari-hari pun, masyarakat banyak melakukannya secara online.

Dan di bawah ini merupakan beberapa statistik yang menyebutkan perubahan kebiasaan masyarakat di dunia digital pada masa pandemi ini.

  • 96% pelanggan global mangatakan mereka lebih banyak mengonsumsi media digital sejak hadirnya pandemi Covid-19, dengan 60% lebih banyak menonton berita dan 52% menonton lebih banyak video/film/pertunjukkn dari layanan streaming.
  • Data dari New York Times menyebutkan penggunaan Facebook meningkat 27%, Netflix meningkat 16% dan YouTube meningkat 15,3%.
  • Pew Research menyebutkan, beberapa aktivitas yang dilakukan warga  Amerika Serikat di masa pandemi ini antara lain; 76% masyarakat menggunakan e-mail atau layanan messaging untuk berkomunikasi, 70% mencari informasi online seputar virus corona, dan 40% membagikan atau posting informasi mengenai pandemi ini melalui media sosial.
  • Berdasarkan laporan dari McKinsey, para pelanggan beradaptasi dengan kebiasaan baru bahkan mungkin akan melanjutkan kebiasaan ini walau masa karantina Covid-19 sudah berakhir. Sebanyak 14% responden menyatakan akan berbelanja kebutuhan mereka melalui situs yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.
  • Global Web Index mengungkapkan bahwa, ketika pandemi ini sudah berakhir, 38% pelanggan global mengatakan bahwa, brand yang membantu masyarakat di kala pandemi ini akan mempengaruhi mereka untuk mau membeli dari brand terkait. Di Amerika Serikat, 39% pelanggan menyatakan mereka akan lebih senang untuk membeli dari brand lokal atau brand independen.

Melihat beberapa statistik di atas, dapat dikatakan bahwa saat ini, tidak hanya di masa pandemi ini saja, mungkin ke depannya juga perilaku konsumen akan berubah dan lebih condong untuk beraktivitas di dunia digital. Hal ini sedikit banyak tentu berpengaruh pula bagi brand. Banyak brand yang kini mengubah berbagai strategi dan cara mereka dalam memasarkan produk atau jasa. Mereka dituntut untuk beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru tersebut.

Karena hal tersebut, saat ini brand seakan dituntut untuk memperkuat eksistensi mereka di platform-platform online dan juga menjalankan strategi-strategi digital marketing. Tujuannya, untuk mendekatkan diri kepada sasaran konsumen mereka, berkomunikasi, membangun hubungan, membangun kepercayaan, dan lain sebagainya.

Sebelum pada pembahasan mengapa penting menjalankan strategi digital marketing, artikel ini akan membahas terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan digital marketing dan apa yang membedakannya dengan marketing tradisional.

Apa itu digital marketing?

Secara sederhana, digital marketing adalah kegiatan pemasaran dengan memanfaatkan berbagai perangkat digital seperti website, media sosial, atau pun mesin pencarian seperti Google untuk mengomunikasikan pesan brand.

Dan yang membedakan antara digital marketing dan traditional marketing terletak pada medium yang digunakan oleh brand supaya pesan yang diutarakan bisa sampai ke audiens.

Sementara, dalam traditional marketing, para pemasar menggunakan channel-channel tradisional seperti baliho, media cetak, televisi dan radio untuk menyebarkan pesan mereka.

Memang menjalankan kegiatan marketing melalui media tradisional tidak bisa dibilang kuno juga. Karena terbukti media-media ini memiliki audiensnya tersendiri dan juga mudah untuk diingat oleh masyarakat.

Tetapi di satu sisi, untuk bisa menjalankan strategi marketing yang efektif, brand perlu mengenal calon konsumen mereka, mengetahui kebiasannya, dan mengejar di mana masyarakat biasa menghabiskan waktu mereka.

Kalau kita menengok kembali statstik di atas, dapat terlihat bahwa sebagian besar masyarakat saat ini berada di media digital. Mungkin statistik di atas berdasarkan survei-survei global, namun, di Indonesia sendiri, banyak juga penduduknya yang kerap menghabiskan waktu di media digital.

Ditambah, hadirnya pandemi ini membuat kebutuhan masyarakat akan media digital meningkat. Mulai dari mencari hiburan dan informasi dilakukan melalui media digital. Untuk berkomunikasi juga melalui media digital. Dan untuk membeli berbagai kebutuhan, masyarakat juga mulai memilih secara online. Beraktivitas melalui media digital dirasa lebih mudah dan aman.

Faktor ini pula yang menjadi alasan dari banyak brand untuk mulai melakukan transformasi digital dan menjalankan strategi-strategi digital marketing.

Pro dan kontra digital marketing

Data dari ClickZ menyebutkan bahwa, pada tahun 2019, pengguna internet mencapai 57% dari populasi dunia, dan rata-rata masyarakat menghabiskan waktu di media online selama 6 jam 42 menit.

Semakin banyak masyarakat yang hadir di dunia digital membuat brand semakin tertarik untuk menjalankan kegiatan marketing mereka dengan memanfaatkan dunia digital. Walau begitu, strategi digital marketing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Dan berikut ini kelebihan dari digital marketing:

Tingkat engagement yang lebih tinggi

Digital marketing memiliki tingkat interaksi yang tinggi, karena audiens dengan mudah memberikan komentar secara langsung melalui media sosial atau e-mail. Dengan begitu, brand menjadi lebih mudah terhubung dengan calon pelanggan.

Selain itu, dengan channel yang lebih banyak dan bersifat dua arah, membuat brand bisa lebih cepat bertemu dan berkomunikasi dengan para target pelanggan mereka.

Lebih mudah mengukur hasilnya

Hasil yang dapat terukur secara jelas kerap menjadi alasan brand memilih untuk menggunakan strategi digital marketing. Strategi ini memungkinkan kita untuk bisa mengetahui informasi-informasi hasil kampanye yang dijalankan, seperti; brand dapat mengetahui berapa banyak orang yang menyaksikan konten, sampai bisa mendapatkan tingkat konversinya.

Dari situ, brand nantinya dapat lebih mudah mengetahui konten mana yang bekerja secara efektif dan perlu dipertahankan,juga konten mana yang hasilnya buruk, sehingga bisa ditinggalkan dan memikirkan tipe konten baru. Dengan begitu, upaya marketing ke depannya pun jadi lebih efektif.

Dapat menargetkan audiens dengan lebih tepat

Banyak tools yang saat ini dapat mempermudah para pemasar untuk mengetahui audiens mereka. Misalnya, dengan menggunakan Google Analytics, brand dapat mengetahui demografi sampai kebiasaan para target pelanggan.

Atau dengan iklan-iklan digital seperti Facebook Ads, juga membuat brand bisa memilih spesifikasi audiens yang ingin mereka sasar, sehingga iklan tersebut efektif mencapai audiens yang tepat, dan efisien dari sisi biaya.

Lebih efisien dari segi waktu dan biaya

Pada awalnya, para pemasar biasanya melakukan eksperimen pada strategi atau kampanye digital mereka. Namun tentunya mereka akan mengukur dan menganalisa kembali. Misalnya saja, dalam mengembangkan kegiatan content marketing, pertama-tama brand hanya meraba-raba kata kunci yang mereka gunakan dalam konten yang dibuatnya. Namun seiring berjalannya waktu, tentu mereka akan menemukan kata kunci yang tepat yang bisa memperkuat SEO blog atau situs mereka sehingga bisa berada dalam peringkat atas mesin pencarian. Dengan lebih mudah ditemukan oleh para calon pelanggan tersebut tentu membuat Cost Per View (CPV) dari kegiatan content marketing tersebut menjadi lebih rendah, sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi lebih efisien.

Seperti yang diungkapkan di atas, dalam memulai strategi ini, banyak pemasar yang melakukan eksperimen dalam menentukan ide konten. Namun ketika sudah mengetahui konten yang paling tepat, maka pengerjaan konten pun menjadi lebih cepat karena sudah mengetahui efektivitas dari konten-konten yang pernah diproduksinya.

Selain itu, digital marketing memberikan peluang tinggi untuk meningkatkan konversi penjualan. Kita bisa membuat Call-To-Action yang bisa mendorong audiens untuk bertindak (action). Hal ini tentu bisa memberikan dampak langsung bagi penjualan brand.

Selain beberapa kelebihan di atas, digital marketing juga memiliki kekurangannya tersendiri. Dan berikut di antaranya.

Iklan digital kerap dianggap mengganggu

Coba bayangkan hal ini, kita sedang asyik menonton YouTube, tiba-tiba ada iklan yang mengganggu. Tentu kita ingin segera menutupnya. Selain itu, kini sudah semakin banyak pengguna internet yang menggunakan ad blocker, dan membuat pesan dari iklan yang kita sampaikan tersebut tidak sampai ke audiens.

Tidak permanen

Upaya digital marketing seperti Google Ads, banner, promo, atau bentuk iklan digital lain kerap diacuhkan oleh para audiens. Dengan sekali klik, iklan kita sudah terhapus dari layar dan dilupakan oleh audiens.

Perilaku audiens terus berubah

Tak dapat dipungkiri kalau kebiasaan masyarakat cepat berubah, yang membuat upaya marketing yang kita lakukan pun perlu melakukan adaptasi yang cepat. Konten yang efektif hari ini bisa saja tidak lagi disukai esok hari, sehingga brand perlu tanggap untuk membuat sesuatu yang baru.

Walau memang ada beberapa kekurangan yang dimiliki, namun menjalankan strategi digital marketing bisa memberikan manfaat bagi brand. Apalagi menurut data dari Lyfe Marketing, lebih dari 80% pembeli akan melakukan riset secara online sebelum melakukan pembelian.

Melakukan kegiatan digital marketing memang bisa berdampak positif dan akan membantu brand untuk mencapai beragam objektif yang telah ditentukan. Namun, menjalankan dan membuatnya menjadi strategi yang efektif tentu tidak mungkin bisa dilkaukan hanya dalam waktu semalam saja.

Banyak pula yang penting untuk diperhatikan dan perlu untuk membangun berbagai channel digital marketing tersebut terlebih dahulu. Semisal, kita perlu mulai membangun situs resmi brand, memperkuat eksistensi di media sosial, menampilkan konten-konten yang menarik, mengoptimalkan kampanye sampai membangun relasi yang baik dengan para audiens.

Dan ketika sudah melengkapinya, tentu brand bisa menjalankan strategi digital marketing yang efektif dan berpeluang untuk meraih beragam objektif yang telah ditentukan.

Ingin tahu topik-topik lain seputar digital marketing? Langsung saja subscribe Marketing Craft!

Feature Image by Austin Distel on Unsplash

Hadirnya pandemi Covid-19, membuat masyarakat dituntut untuk melakukan perubahan kebiasaan khususnya dalam mengonsumsi media dan juga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ini masyarakat tengah dipaksa untuk melakukan aktivitasnya dari rumah, membuat waktu yang dihabiskan secara online meningkat. Bukan hanya untuk mencari informasi dan hiburan, atau untuk berinteraksi dengan teman dan kolega, bahkan untuk belanja atau memenuhi kebutuhan sehari-hari pun, masyarakat banyak melakukannya secara online.

Dan di bawah ini merupakan beberapa statistik yang menyebutkan perubahan kebiasaan masyarakat di dunia digital pada masa pandemi ini.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Hadirnya pandemi Covid-19, membuat masyarakat dituntut untuk melakukan perubahan kebiasaan khususnya dalam mengonsumsi media dan juga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ini masyarakat tengah dipaksa untuk melakukan aktivitasnya dari rumah, membuat waktu yang dihabiskan secara online meningkat. Bukan hanya untuk mencari informasi dan hiburan, atau untuk berinteraksi dengan teman dan kolega, bahkan untuk belanja atau memenuhi kebutuhan sehari-hari pun, masyarakat banyak melakukannya secara online.

Dan di bawah ini merupakan beberapa statistik yang menyebutkan perubahan kebiasaan masyarakat di dunia digital pada masa pandemi ini.

  • 96% pelanggan global mangatakan mereka lebih banyak mengonsumsi media digital sejak hadirnya pandemi Covid-19, dengan 60% lebih banyak menonton berita dan 52% menonton lebih banyak video/film/pertunjukkn dari layanan streaming.
  • Data dari New York Times menyebutkan penggunaan Facebook meningkat 27%, Netflix meningkat 16% dan YouTube meningkat 15,3%.
  • Pew Research menyebutkan, beberapa aktivitas yang dilakukan warga  Amerika Serikat di masa pandemi ini antara lain; 76% masyarakat menggunakan e-mail atau layanan messaging untuk berkomunikasi, 70% mencari informasi online seputar virus corona, dan 40% membagikan atau posting informasi mengenai pandemi ini melalui media sosial.
  • Berdasarkan laporan dari McKinsey, para pelanggan beradaptasi dengan kebiasaan baru bahkan mungkin akan melanjutkan kebiasaan ini walau masa karantina Covid-19 sudah berakhir. Sebanyak 14% responden menyatakan akan berbelanja kebutuhan mereka melalui situs yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.
  • Global Web Index mengungkapkan bahwa, ketika pandemi ini sudah berakhir, 38% pelanggan global mengatakan bahwa, brand yang membantu masyarakat di kala pandemi ini akan mempengaruhi mereka untuk mau membeli dari brand terkait. Di Amerika Serikat, 39% pelanggan menyatakan mereka akan lebih senang untuk membeli dari brand lokal atau brand independen.

Melihat beberapa statistik di atas, dapat dikatakan bahwa saat ini, tidak hanya di masa pandemi ini saja, mungkin ke depannya juga perilaku konsumen akan berubah dan lebih condong untuk beraktivitas di dunia digital. Hal ini sedikit banyak tentu berpengaruh pula bagi brand. Banyak brand yang kini mengubah berbagai strategi dan cara mereka dalam memasarkan produk atau jasa. Mereka dituntut untuk beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru tersebut.

Karena hal tersebut, saat ini brand seakan dituntut untuk memperkuat eksistensi mereka di platform-platform online dan juga menjalankan strategi-strategi digital marketing. Tujuannya, untuk mendekatkan diri kepada sasaran konsumen mereka, berkomunikasi, membangun hubungan, membangun kepercayaan, dan lain sebagainya.

Sebelum pada pembahasan mengapa penting menjalankan strategi digital marketing, artikel ini akan membahas terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan digital marketing dan apa yang membedakannya dengan marketing tradisional.

Apa itu digital marketing?

Secara sederhana, digital marketing adalah kegiatan pemasaran dengan memanfaatkan berbagai perangkat digital seperti website, media sosial, atau pun mesin pencarian seperti Google untuk mengomunikasikan pesan brand.

Dan yang membedakan antara digital marketing dan traditional marketing terletak pada medium yang digunakan oleh brand supaya pesan yang diutarakan bisa sampai ke audiens.

Sementara, dalam traditional marketing, para pemasar menggunakan channel-channel tradisional seperti baliho, media cetak, televisi dan radio untuk menyebarkan pesan mereka.

Memang menjalankan kegiatan marketing melalui media tradisional tidak bisa dibilang kuno juga. Karena terbukti media-media ini memiliki audiensnya tersendiri dan juga mudah untuk diingat oleh masyarakat.

Tetapi di satu sisi, untuk bisa menjalankan strategi marketing yang efektif, brand perlu mengenal calon konsumen mereka, mengetahui kebiasannya, dan mengejar di mana masyarakat biasa menghabiskan waktu mereka.

Kalau kita menengok kembali statstik di atas, dapat terlihat bahwa sebagian besar masyarakat saat ini berada di media digital. Mungkin statistik di atas berdasarkan survei-survei global, namun, di Indonesia sendiri, banyak juga penduduknya yang kerap menghabiskan waktu di media digital.

Ditambah, hadirnya pandemi ini membuat kebutuhan masyarakat akan media digital meningkat. Mulai dari mencari hiburan dan informasi dilakukan melalui media digital. Untuk berkomunikasi juga melalui media digital. Dan untuk membeli berbagai kebutuhan, masyarakat juga mulai memilih secara online. Beraktivitas melalui media digital dirasa lebih mudah dan aman.

Faktor ini pula yang menjadi alasan dari banyak brand untuk mulai melakukan transformasi digital dan menjalankan strategi-strategi digital marketing.

Pro dan kontra digital marketing

Data dari ClickZ menyebutkan bahwa, pada tahun 2019, pengguna internet mencapai 57% dari populasi dunia, dan rata-rata masyarakat menghabiskan waktu di media online selama 6 jam 42 menit.

Semakin banyak masyarakat yang hadir di dunia digital membuat brand semakin tertarik untuk menjalankan kegiatan marketing mereka dengan memanfaatkan dunia digital. Walau begitu, strategi digital marketing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Dan berikut ini kelebihan dari digital marketing:

Tingkat engagement yang lebih tinggi

Digital marketing memiliki tingkat interaksi yang tinggi, karena audiens dengan mudah memberikan komentar secara langsung melalui media sosial atau e-mail. Dengan begitu, brand menjadi lebih mudah terhubung dengan calon pelanggan.

Selain itu, dengan channel yang lebih banyak dan bersifat dua arah, membuat brand bisa lebih cepat bertemu dan berkomunikasi dengan para target pelanggan mereka.

Lebih mudah mengukur hasilnya

Hasil yang dapat terukur secara jelas kerap menjadi alasan brand memilih untuk menggunakan strategi digital marketing. Strategi ini memungkinkan kita untuk bisa mengetahui informasi-informasi hasil kampanye yang dijalankan, seperti; brand dapat mengetahui berapa banyak orang yang menyaksikan konten, sampai bisa mendapatkan tingkat konversinya.

Dari situ, brand nantinya dapat lebih mudah mengetahui konten mana yang bekerja secara efektif dan perlu dipertahankan,juga konten mana yang hasilnya buruk, sehingga bisa ditinggalkan dan memikirkan tipe konten baru. Dengan begitu, upaya marketing ke depannya pun jadi lebih efektif.

Dapat menargetkan audiens dengan lebih tepat

Banyak tools yang saat ini dapat mempermudah para pemasar untuk mengetahui audiens mereka. Misalnya, dengan menggunakan Google Analytics, brand dapat mengetahui demografi sampai kebiasaan para target pelanggan.

Atau dengan iklan-iklan digital seperti Facebook Ads, juga membuat brand bisa memilih spesifikasi audiens yang ingin mereka sasar, sehingga iklan tersebut efektif mencapai audiens yang tepat, dan efisien dari sisi biaya.

Lebih efisien dari segi waktu dan biaya

Pada awalnya, para pemasar biasanya melakukan eksperimen pada strategi atau kampanye digital mereka. Namun tentunya mereka akan mengukur dan menganalisa kembali. Misalnya saja, dalam mengembangkan kegiatan content marketing, pertama-tama brand hanya meraba-raba kata kunci yang mereka gunakan dalam konten yang dibuatnya. Namun seiring berjalannya waktu, tentu mereka akan menemukan kata kunci yang tepat yang bisa memperkuat SEO blog atau situs mereka sehingga bisa berada dalam peringkat atas mesin pencarian. Dengan lebih mudah ditemukan oleh para calon pelanggan tersebut tentu membuat Cost Per View (CPV) dari kegiatan content marketing tersebut menjadi lebih rendah, sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi lebih efisien.

Seperti yang diungkapkan di atas, dalam memulai strategi ini, banyak pemasar yang melakukan eksperimen dalam menentukan ide konten. Namun ketika sudah mengetahui konten yang paling tepat, maka pengerjaan konten pun menjadi lebih cepat karena sudah mengetahui efektivitas dari konten-konten yang pernah diproduksinya.

Selain itu, digital marketing memberikan peluang tinggi untuk meningkatkan konversi penjualan. Kita bisa membuat Call-To-Action yang bisa mendorong audiens untuk bertindak (action). Hal ini tentu bisa memberikan dampak langsung bagi penjualan brand.

Selain beberapa kelebihan di atas, digital marketing juga memiliki kekurangannya tersendiri. Dan berikut di antaranya.

Iklan digital kerap dianggap mengganggu

Coba bayangkan hal ini, kita sedang asyik menonton YouTube, tiba-tiba ada iklan yang mengganggu. Tentu kita ingin segera menutupnya. Selain itu, kini sudah semakin banyak pengguna internet yang menggunakan ad blocker, dan membuat pesan dari iklan yang kita sampaikan tersebut tidak sampai ke audiens.

Tidak permanen

Upaya digital marketing seperti Google Ads, banner, promo, atau bentuk iklan digital lain kerap diacuhkan oleh para audiens. Dengan sekali klik, iklan kita sudah terhapus dari layar dan dilupakan oleh audiens.

Perilaku audiens terus berubah

Tak dapat dipungkiri kalau kebiasaan masyarakat cepat berubah, yang membuat upaya marketing yang kita lakukan pun perlu melakukan adaptasi yang cepat. Konten yang efektif hari ini bisa saja tidak lagi disukai esok hari, sehingga brand perlu tanggap untuk membuat sesuatu yang baru.

Walau memang ada beberapa kekurangan yang dimiliki, namun menjalankan strategi digital marketing bisa memberikan manfaat bagi brand. Apalagi menurut data dari Lyfe Marketing, lebih dari 80% pembeli akan melakukan riset secara online sebelum melakukan pembelian.

Melakukan kegiatan digital marketing memang bisa berdampak positif dan akan membantu brand untuk mencapai beragam objektif yang telah ditentukan. Namun, menjalankan dan membuatnya menjadi strategi yang efektif tentu tidak mungkin bisa dilkaukan hanya dalam waktu semalam saja.

Banyak pula yang penting untuk diperhatikan dan perlu untuk membangun berbagai channel digital marketing tersebut terlebih dahulu. Semisal, kita perlu mulai membangun situs resmi brand, memperkuat eksistensi di media sosial, menampilkan konten-konten yang menarik, mengoptimalkan kampanye sampai membangun relasi yang baik dengan para audiens.

Dan ketika sudah melengkapinya, tentu brand bisa menjalankan strategi digital marketing yang efektif dan berpeluang untuk meraih beragam objektif yang telah ditentukan.

Ingin tahu topik-topik lain seputar digital marketing? Langsung saja subscribe Marketing Craft!

Feature Image by Austin Distel on Unsplash

Related articles