Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Bahaya Followers Palsu Bagi Strategi Influencer Marketing

By
Dimas Gityandraputra
 •
May 19, 2020

Influencer marketing merupakan strategi yang beberapa tahun belakangan ini mulai marak dimanfaatkan oleh para marketers untuk mempromosikan produk atau jasa mereka. Alasannya, karena dengan bekerja sama dengan para influencer ini, brand dapat meningkatkan visibility mereka di hadapan publik dan juga dapat mencapai audiens yang lebih besar atau belum tersentuh sebelumnya.

Namun demikian, strategi ini tetap memiliki tantangannya tersendiri. Berdasarkan data dari Emarketer, menurut marketers yang mereka survei, 50% dari mereka menyatakan bahwa tantangan dari strategi influencer marketing adalah sulitnya mengenali followers palsu dan engagement yang tidak autentik.

Baca Juga: Memahami Influencer Marketing

Memang saat ini kekhawatiran brand ketika ingin bekerja sama dengan para influencer adalah, sulitnya menentukan influencer yang paling tepat untuk mereka ajak kerja sama. Karena, kalau brand memilih influencer dengan followers palsu, maka hal ini bisa menimbulkan kerugian yang cukup signifikan bagi brand terkait.

Mengapa followers palsu berbahaya bagi campaign influencer marketing?

Sekarang ini dapat kita lihat banyak sekali akun di media sosial yang berpotensi untuk diajak berkolaborasi karena terlihat memiliki jumlah followers yang menjanjikan, dan sepertinya dapat membantu mendongkrak popularitas produk atau jasa yang ditawarkan brand kepada masyarakat luas, khususnya para followers si influencer.

Namun, ternyata banyak pula di antara akun-akun tersebut yang memiliki followers palsu atau menggunakan jasa jual beli followers yang beredar di dunia maya. Karena hal tersebut pula, brand kini perlu berhati-hati untuk memilih para influencer yang tepat agar nantinya kerja sama yang dijalankan dapat mencapai objektif dan tidak  menimbulkan bahaya bagi kampanye marketing yang dijalankan.

Memang sebuah kampanye influencer marketing yang dijalankan dengan followers palsu dapat memberikan kerugian bagi brand yang melakukannya. Alasan pertama karena, metriks yang diukur menjadi tidak tepat. Jumlah likes atau engagement yang kita dapatkan menjadi tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya diharapkan. Karena memang para followers palsu tadi bersifat pasif sehingga tidak akan meningkatkan awareness mereka terhadap masyarakat. Dan lebih jauh, tingkat konversi pun sulit beranjak menuju nilai yang positif.

Selain itu, para influencer yang diajak berkolaborasi tentu sudah dipilih dan dibayar oleh brand untuk dapat menyampaikan nilai produk atau jasa mereka kepada para komunitas (followers) yang dikelola oleh influencer tersebut. Tetapi kalau komunitas tersebut sendiri ternyata terdiri dari ratusan atau bahkan ribuan akun palsu, maka hal ini dapat merusak return of investment (ROI) yang seharusnya bisa diperoleh brand.

Bukan itu saja, followers palsu juga bisa memberikan dampak negatif bagi pengalaman pelanggan yang ada pada jaringan sosial yang dikelola brand. Sehingga masyarakat tidak mendapat kepercayaan pada produk atau jasa yang ditawarkan.

Tidak hanya dari sisi brand, followers palsu ini juga dapat mengundang kerugian bagi para influencer. Bisa dibilang kalau strategi ini sedang booming dalam industri marketing saat ini. Dengan praktik buruk ini, pada akhirnya dapat membuat banyak influencer yang kehilangan pekerjaan mereka karena banyak marketers tidak lagi percaya pada jasa influencer, sehingga akan memberikan dampak kerugian karena buruknya performa dari influencer.

Untungnya, saat ini platform media sosial sudah mulai mengevaluasi isu ini. Sebagai contoh, Facebook sudah mulai membersihkan akun-akun yang mereka anggap palsu dan menghapus lebih dari 1,8 miliar akun palsu dari November 2017 sampai Mei 2018.

Dan pada akhirnya, akun dengan followers palsu ini membuat pelanggan menjadi kehilangan kepercayaan bagi brand maupun influencer. Padahal pada era di mana data dan nilai transparansi begitu dipegang, kepercayaan merupakan unsur penting agar strategi influencer marketing dapat berjalan secara sukses.

Memang followers palsu ini nantinya akan menyulitkan bagi brand untuk bisa meningkatkan ROI mereka dan juga tingkat konversi. Sehingga perkembangan brand menjadi lebih stagnan dan sulit untuk mencapai objektif-objektif yang sudah diharapkan.

Baca Juga: 5 Kesalahan yang Kerap Terjadi dalam Influencer Marketing

Namun, jika brand ingin menemukan influencer yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, sebenarnya mereka juga bisa bekerja sama dengan jejaring kreatif online seperti GetCraft agar tidak tertipu dengan followers palsu dan kampanye yang dijalankan bisa mencapai objektif-objektif yang telah ditentukan.

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Tags:
No items found.

Related articles