Sign Up to MarketingCraft Newsletter for Free!

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Bagaimana Cara Membaca Selera Pasar?

By
iMarketology
 •
May 20, 2020

“Tujuan dari riset pasar adalah untuk mengetahui dan mengenal pelanggan dengan sangat baik, produk atau jasa menjual dirinya sendiri”( Peter Drucker )

Sebagai ilustrasi, di kota Surabaya dalam 2 tahun terakhir ini ada sebuah fenomena yang menarik. Banyak sekali restoran baru dibuka dengan penampilan fisik eksterior dan interior yang stylish, plus lokasi strategis yang dipilih, dapat diperkirakan bahwa investasi yang ditanamkan bisa mencapai di atas 1 miliar rupiah. Sayangnya, sebagian besar restoran baru tersebut hanya bisa bertahan kurang dari setahun. Apa yang salah pada fenomena ini ?

Selama hidup dari lahir sampai hari ini, kita pasti sadar bahwa banyak sekali brand-brand baru di sekitar kita -apa pun produk atau jasanya, hanya bisa bertahan beberapa bulan saja sejak diluncurkan ke pasar. Pernahkah terpikir, apa yang salah dengan brand-brand tersebut?

Kembali pada ilustrasi bisnis restoran di atas, banyak sekali pemilik yang hanya melakukan uji coba menu restoran mereka hanya kepada saudara dan teman-teman dekat mereka sebelum melakukan grand opening. Padahal, target pasar mereka tentu ingin mencapai seluas kota Surabaya dengan segmentasi pasar tertentu.

Nah, apakah bisa sekumpulan orang, yang populasinya kurang dari 100 orang, dapat dianggap mewakili keseluruhan populasi target pasar yang jumlahnya ribuan atau bahkan jutaan orang?

Selera para target pasar belum tentu sama dengan selera kita (kata “kita” di konteks ini mewakili pemilik brand dan sekumpulan orang-orang disekitarnya). Menurut pemilik brand produknya atau jasanya dianggap baik, namun belum tentu sesuai dengan selera target pasarnya.

Apa saja kesalahan yang sering dilakukan pemilik brand dalam membaca selera target pasarnya sebelum meluncurkan produk atau jasanya?

Baca Juga: Mengapa Perusahaan atau Brand Harus Melakukan Riset Pasar?

Menganggap riset pasar tidak perlu dilakukan

Walaupun memiliki anggaran yang cukup, banyak juga pemilik brand yang dengan sengaja tidak melakukan riset pasar karena menganggap tidak perlu dilakukan.

Padahal, Dengan tidak melakukan riset pasar, sebenarnya pemilik brand berusaha membaca selera target pasar berdasarkan sudut pandang seleranya sendiri (subjektif). Di mana, bisa saja kumpulan orang-orang yang mewakili pemilik brand tersebut tidak berada di segmen pasar yang sama dengan target pasar sebenarnya.

Akibatnya, produk atau jasa brand susah sekali diserap oleh pasar setelah diluncurkan. Alhasil, modal investasi yang begitu besar dikeluarkan untuk pengembangan produk atau jasanya, menjadi sia-sia karena tidak mau mengeluarkan anggaran untuk riset pasar sebelum produk atau jasa diluncurkan?

Mana yang lebih baik, mencari target pasar yang tepat untuk produk atau jasa yang sudah selesai dikembangkan (pengembangan produk atau jasa dulu, baru kemudian melakukan riset pasar)? Atau, mengembangkan produk atau jasa sesuai selera target pasar yang dituju (riset pasar dulu untuk mengetahui selera target pasar, baru kemudian mengembangkan produk atau jasa yang sesuai selera target pasar tersebut)?

Tidak melakukan riset pasar karena alasan tidak memiliki anggaran yang cukup

Bagi perusahaan rintisan yang seringkali dimulai dengan modal finansial yang kecil, melakukan riset pasar bisa menjadi terlalu mewah. Namun keterbatasan modal seharusnya bukan alasan untuk tidak melakukan riset pasar.

Karena, ada salah satu jenis riset pasar, yaitu riset pasar sekunder, yang bisa dilakukan tanpa biaya finansial sama sekali. Yang diperlukan dalam melakukan riset pasar sekunder adalah kemauan dan waktu untuk membaca dan menganalisa data-data pasar yang sudah dipublikasikan untuk umum.

Walaupun sebenarnya riset pasar sekunder tidaklah cukup, namun masih lebih baik daripada tidak melakukan riset pasar sama sekali.

Menggunakan data yang sudah kedaluwarsa

Kalau target penjualan perusahaan ditentukan ulang setiap setahun sekali, maka kita juga perlu melakukan riset pasar setahun sekali. Data hasil riset pasar yang sudah kedaluwarsa, ditakutkan akan menghasilkan strategi pemasaran yang tidak tepat. 

Apalagi, di era digital ini, perubahan pada pasar, tren, dan perilaku konsumen terjadi begitu cepat. Maka, pemasar perlu juga secepatnya melakukan update pada data yang dimiliki, agar strategi dan eksekusi menjadi tepat sasaran dan disukai publik. 

Baca juga: Data Driven vs. Data Informed: Mana Yang Lebih Efektif Mendukung Pemasaran?

Kesimpulan

Kunci agar brand sukses diminati oleh masyarakat adalah dengan mengenal terlebih dahulu selera dari para target pasarnya. Dan cara terbaik untuk mengetahuinya, brand perlu melakukan riset pasar sehingga mempunyai data yang akurat dan dapat bersaing dengan para kompetitornya. 

Pemasar juga perlu mengeluarkan sedikit biaya agar produk yang ditawarkan dapat diterima dengan baik oleh pasar, dibanding berasumsi dengan selera sendiri namun pada akhirnya malah berakibat buruk pada produk atau jasa yang diluncurkan. 

Klik di sini untuk menemukan para profesional yang bisa membantu Anda untuk melakukan riset pasar!

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Related articles